Blog Archives

Paparan Pestisida Picu Keguguran

Ibu Hamil, Jagalah Berat Badan Anda!

inmagine.com

Ibu hamil ternyata tetap harus menjaga berat badan sehingga tidak kena obesitas. Kisaran kenaikan berat badan disarankan dari 5-8 kilogram (kg) saja.

Menurut Institut of Medicine kisaran angka tersebut dapat membantu kelancaran hamil dan proses kelahiran pada ibu hamil yang mengalami obesitas.

Bahkan, studi yang dilakukan institut ini juga mengingatkan agar ibu hamil penderita obesitas tidak boleh menaikkan berat badan. Peneliti membatasi kenaikan berat badan hingga 3 persen dari berat sebelum kehamilan. Artinya kenaikan hanya boleh terjadi sebanyak 2,5 kilogram pada Ibu yang memiliki berat badan sebesar 85 kilogram.

“Kehamilan merupakan saat wanita memiliki keinginan untuk berlaku positif, karena sangat penting bagi kesehatan sang ibu dan janin,” kata Profesor Gizi pada Cornell University Kathleen M Rasmussen seperti dikutip dalam laman New York Times.

Wanita, kata dia,  biasanya berhenti merokok atau minum-minuman beralkohol saat mengandung. “Tiga per empat ibu hamil penderita obesitas mengalami kenaikan berat badan di luar pedoman,” tambah Rasmussen.

Wanita hamil penderita obesitas sebaiknya didorong untuk mengkonsumsi makanan rendah lemak yang menekankan pada konsumsi buah, sayur mayur, gandum, daging tidak berlemak dan produk susu rendah lemak serta hanya mendapat asupan sebanyak 2000 kalori per hari.

Meski kenaikan berat badan itu normal dalam proses kehamilan akibat perubahan dalam hormon sang ibu berbarengan kenaikan berat badan si janin.

Menurut peneliti dari Kaiser Permanente Center for Health Research Kimberly K Vosco, mitos bahwa ibu hamil harus menaikkan berat badan dan makan untuk dua orang sebaiknya dihindari. “Sejujurnya, anda memang harus makan lebih tapi tidak berlebihan,” kata dia.

Pelarangan terhadap berat badan pada kehamilan bukanlah hal yang baru. Sepanjang abad 19 dan 20, wanita selalu diberitahu untuk menaikkan berat badannya tidak kurang dari 10 kilogram untuk mengurangi komplikasi dan bedah cesar.

Saat ini peneliti mulai mempertanyakan apakah ibu penderita obesitas dapat mempengaruhi perkembangan sang janin dan sebaliknya apakah hal obesitas dapat diturunkan kepada sang janin.

Namun, tidak semua orang mengetahui dampak pelarangan kenaikan berat badan. “Ini masih eksperimen,” jelas Rasmussen. Percobaan senilai US$2,2 juta dengan pembiayaan dari pemerintah federal Amerika Serikat.

Terdapat kekhawatiran pada kehamilan pada ibu penderita obesitas. Ibu hamil yang tidak mengalami kenaikan berat badan akan membakar lemak guna energi, memproduksi komponen asam  bernama ketones, yang dapat berbahaya bagi janin. Studi pada wanita hamil penderita diabetes melahirkan bayi dengan kadar ketone yang lebih banyak dalam darahnya dan tingkat IQ yang lebih rendah daripada bayi yang lainnya. VIVAnews

Artikel Terkait :

Keguguran Karena Kandungan Lemah

inmagine.com

Jakarta, Perempuan yang sering mengalami keguguran dikatakan memiliki kandungan yang lemah. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kandungan lemah?

“Dalam istilah medis kandungan lemah adalah adanya gangguan pada leher rahim (serviks) yang disebut dengan inkompetensi serviks. Rata-rata setiap usia kehamilan 4 bulan, ibu tersebut akan mengalami keguguran,” ujar Dr Med Damar Prasmusinto, SpOG saat dihubungi detikHealth, Sabtu (16/1/2010).

Dr Damar menuturkan penyebab dari inkompetensi serviks adalah adanya ketidaknormalan atau kelemahan dari bentuk serviks. Seharusnya serviks belum terbuka saat usia kehamilan 4 bulan, tapi karena ketidaknormalan tersebut serviks mengalami pembukaan yang menyebabkan hasil pembuahan keluar dari rahim atau mengalami keguguran.

Penyebab dari inkompetensi serviks ini adalah:
1. Akibat faktor bawaan atau keturunan
2. Proses kuret yang membuat trauma sehingga menghasilkan efek samping pelemahan serviks
3. Penyakit kolagen (di mulut rahim ada zat kolagen dan ini salah satu faktor risikonya)
4. Akibat adanya infeksi dari luar rahim.

“Kalau 1-2 kali keguguran itu masih normal, tapi kalau kegugurannya terjadi sebanyak 3 kali secara berturut-turut maka harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui apa penyebab dari keguguran tersebut,” ujar dokter yang aktif mengajar di FK-UI.

Pemeriksaan yang dilakukan bisa berupa tes darah dari kedua orangtua untuk melihat kromosomnya atau bisa juga menjalani pemeriksaan ACA (anticardiolipin) yaitu pemeriksaan kekentalan darah. Jika sang calon ibu terkena sindrom ACA, maka darahnya akan cepat mengental yang mengakibatkan aliran darah ke janin terhambat sehingga janin kekurangan zat gizi dan oksigen.

Penyebab keguguran yang paling besar adalah akibat kelainan kromosom yang disebabkan oleh orangtuanya yaitu sekitar 60 persen. Kelainan ini disebabkan karena saat proses pembuahan tersebut sel telur atau spermanya tidak bagus. Faktor risiko untuk kelainan kromosom ini terjadi pada perempuan di atas usia 35 tahun dan laki-laki diatas usia 55 tahun. Sedangkan penyebab keguguran lainnya adalah adanya infeksi yang terjadi saat usia kehamilan masih muda, kasusnya sekitar 20-30 persen.

“Kehamilan itu seperti hukum alam. Untuk mencegah keguguran, ibu hamil harus istirahat yang cukup. Jika mengalami flek sebaiknya ibu hamil istirahat total di rumah saja juga nggak apa-apa,” ujar dokter yang berpraktik di RS Brawijaya dan RSCM.

Dijelaskan Dr Damar jika penyebab keguguran sudah diketahui dan bisa diobati dengan baik, maka ibu tersebut boleh hamil lagi asalkan sudah selesai masa nifas dan fungsi reproduksi bekerja dengan baik.

Artikel Terkait :

%d bloggers like this: