Blog Archives

PENGARUH IBU TERHADAP PERKEMBANGAN JANIN


inmagine.com

1. Gizi Ibu

Gizi makanan ibu berpengaruh pada pertumbuhan janin. Pengaturan gizi yang baik akan berpengaruh positif, sedangkan bila kurang baik maka pengaruhnya negatif. Pengaruh ini tampak jelas pada bayi yang baru lahir dalam hal panjang dan besarnya. Panjang dan besarnya bayi dalam keadaan normal bila gizi juga baik. Gizi yang berlebihan mengakibatkan bayi terlalu panjang dan terlalu besar. Bayi yang terlalu panjang dan terlalu besar bisa menyulitkan proses kelahiran. Sedangkan ibu yang kekurangan gizi, bayinya pendek, kecil, dan kondisi kesehatannya kurang baik.

Menu protein tinggi dibutuhkan oleh ibu hamil. Protein diperlukan untuk pertumbuhan bayi yang dikandungnya. Kelahiran premature lebih banyak terjadi pada ibu yang kekurangan gizi. Bayi premature umumnya berat badannya kurang, cenderung mengalami hambatan dalam perkembangannya, bak hambatan pertumbuhan fisik, hambatan perkembangan gerak, maupun hambatan perkembangan mental. Faktor penyebab utama kekuangan gizi pada ibu hamil adalah kondisi social ekonomi yang rendah.

Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin, seperti diuraikan berikut ini.

a. Terhadap Ibu

Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi.

b. Terhadap Persalinan

Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (premature), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat.

c. Terhadap Janin

Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan kegururan , abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR)

Sumber :

Manik, R. 2000. Pengaruh Sosio Demografi, Riwayat Persalinan dan Status Gizi Ibu terhadap Kejadian BBLR, Studi Kasus di RSIA Sri Ratu Medan. Skripsi Mahasiswa FKM USU. Medan.

2. Aktifitas Fisik

Pada saat hamil ibu tetap perlu melakukan aktiftas fisik, Tetapi terbatas pada aktifitas ringan. Aktifitas fisik yang berat bisa menyebabkan keguguran kandungan, apalagi bila dilakukan pada bulan-bulan awal kehamilan. Aktifitas fisik yang berat bisa mengakibatkan kelelahan. Ibu hamil yang terlalu sering mengalami kelelahan fisik, besarnya janin akan menyusut atau berkembangnnya tidak baik.

3. Kondisi Emosional

Kondisi emosional ibu hamil yang tidak stabil misalnya sering marah-marah atau selalu sedih, bisa berakibat tidak baik terhadap perkembangan kejiwaan bayi yang akan dilahirkan. Dalam perkembangnnya, bayi bisa menjadi cengeng atau terlalu perasa.

Suasana hati yang kelam dan emosi yang meledak-ledak dapat mempengaruhi detak jantung, tekanan darah, produksi adrenalin, aktivitas kelenjar keringat, sekresi asam lambung, dan lain-lain. Trauma, stres, atau tekanan psikologis juga dapat memunculkan gejala fisik seperti letih, lesu, mudah marah, gelisah, pening, mual atau merasa malas.

Karena perubahan yang terjadi pada fisik mempengaruhi aspek psikologis dan sebaliknya, maka mudah bagi ibu hamil untuk mengalami trauma. Menurut Shinto, trauma ini ternyata dapat dirasakan juga oleh janin. Bahkan, janin sudah menunjukkan reaksi terhadap stimulasi yang berasal dari luar tubuh ibunya. Sementara dalam masa perkembangan janin, ada masa-masa yang dianggap kritis yang menyangkut pembentukan organ tubuh. Oleh karena itu, mau tidak mau ibu hamil harus menjaga kondisi fisik maupun psikisnya agar bayinya dapat tumbuh sehat.

4. Penyakit yang diidap Ibu

Penyakit yang diderita ibu pada saat hamil bias berakibat negative kepada janin yang dikandung. Akibat negatif yang bias ditimbulkan adalah kematian pada saat di dalam kandungan atau terbentuknya organ-organ tubuh jari yang tidak sempurna atau cacat.

Penyakit ibu yang bisa menyebabkan kematian janin di dalam kandungan antara lain : kolera, malaria, influenza, dan sipilis. Sipilis juga mengakibatkan kebutaan atau kecacatan fisik yang lain pada bayi yang dilahirkan.

5. Pengaruh Obat-obatan, narkoba, dan rokok

Seperti halnya penyakit, beberapa macam obat-obatan yang diminum atau disuntikkan bisa mengakibatkan pertumbuhan organ-organ tubuh yang tidak sempurna. Pengaruh ini terutama bisa terejadi pada saat awal kehamilan. Obat-obatan yang bisa berpengaruh negatif tersebut antara lain aspirin dan obat-obat malaria.

Penggunaan obat-obatan narkotika, misalnya : heroin, kokain, atau morfin juga berpengaruh tidak baik terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh ini terbawa sampai lahir. Pengaruh Narkotika seperti yang dialami oleh ibunya tertular pada bayinya.

Ibu hamil yang perokok juga berpengaruh negatif terhadap janin yang dikandung. Besarnya pengaruh tergantung pada banyak sedikitnya rokok yang dihisap setiap harinya. Pengaruhnya adalah terhadap pertumbuhan janin, yang tampak pada kurangnya berat bai yang dilahirkan.

Janin juga Punya Perasaan


inmagine.com

Ibu hamil hendaknya memperlakukan janinnya dengan baik. “Soalnya, perlakuan ibu semasa hamil akan mempengaruhi keseluruhan hidup bayinya kelak. Terutama, sifat dan tabiat,” kata dr Hermanto T.J SpOG(K).

Bisa dikatakan, proses kehamilan merupakan window of opportunity alias dengan hamil, maka ibu mendapat kesempatan untuk memberikan perlakuan baik bagi janinnya. Artinya, bila semasa hamil ibu berperilaku baik, maka janin akan mempunyai attitude yang baik pula sepanjang hidupnya. Hal tersebut berlaku sebaliknya.

Rahim, menurut Hermanto, bukan sekadar waiting room bagi janin selama sembilan bulan sepuluh hari. Sebab, sebenarnya, janin sudah tercipta sebagai manusia yang lengkap dengan perasaan. Hermanto mencontohkan dua kasus. Agni (nama samaran, Red.), bayi cantik berusia 3 bulan sejak lahir tak pernah mau disusui ibunya. Ketika dicoba disusui wanita lain, Agni tak menolak. Kasus kedua, setahun lalu ada ibu muda melakukan pemeriksaan USG di RSU dr Soetomo. Saat janin terlihat di layar, ia seperti menyunggingkan senyum. Hingga sekarang gambar janin tersenyum itu terus disimpan Hermanto, dokter yang menangani kehamilan perempuan itu.

Setelah ditelusuri, ternyata kedua bayi itu memiliki latar belakang yang berbeda. Agni adalah unwanted child, tak pernah diinginkan ibunya. “Semasa hamil ibunya sering ngomel dan mengeluh atas kehamilannya,” ujar Hermanto. Sedangkan kasus kedua, jauh lebih beruntung karena memiliki orang tua yang memperlakukan si mungil dengan baik. Seperti, sering mengajak janin berbincang-bincang dan memperdengarkan karya Mozart. “Jangan lupa, janin juga membutuhkan diajak berkomunikasi agar tercipta ikatan batin (bonding) sejak dini,” jelas dokter berusia 41 tahun itu.

Dia menambahkan, janin mempunyai tiga kemampuan semasa dalam kandungan. Yaitu, kemampuan bertahan hidup, kemampuan untuk belajar dan memiliki perasaan. Dalam hal ini, janin punya kemampuan untuk menangkap getaran-getaran yang terjadi di dunia luar. Seperti, mendengar musik, obrolan hingga mengerti hal-hal yang dirasakan sang ibu. “Perlu diketahui, janin tahu ketika ibunya marah, sedih ataupun gelisah. Hal-hal tersebut bisa mempengaruhi kondisi psikologis janin hingga lahir dan tumbuh dewasa,” tukas spesialis kebidanan dan kandungan RSU dr Soetomo Surabaya ini.

Saat janin berusia 18 minggu, dia sudah bisa mendengar. “Sebab, telinga adalah organ pertama yang terbentuk dengan sempurna,” paparnya. Bagi orang tua yang menginginkan anak dengan good attitude, tak ada salahnya lebih peka dalam memperlakukan si mungil sejak dalam kandungan.

Sumber : Radar Sulawesi Tengah

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 621 other followers

%d bloggers like this: