Hamil, tapi Tak Ada Janinnya


DOK, bulan lalu saya mengalami keguguran dan terpaksa dikuret. Saat itu usia kehamilan 3 bulan. Dokter mengatakan bahwa dalam rahim saya cuma ada kantong kehamilan dan tak ada janinnya. Mengapa itu bisa terjadi, Dok? Bisakah dideteksi sejak dini? Apakah tindakan kuretase tepat dilakukan?

Yuanita Andini – Aceh

Jawab:

dr Dewi Ratih Hendarto Putri, SpOG dari RS Cinere menjelaskan, apa yang Ibu alami disebut blighted ovum atau istilah awamnya kehamilan kosong, yakni keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. Ia merasakan pula gejala-gejala kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan, payudara mengeras, serta pembesaran pada daerah perut. Bahkan saat dilakukan tes kehamilan – menggunakan test pack ataupun laboratorium – hasilnya pun positif.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada cara untuk mendeteksi dini kehamilan blighted ovum. Seorang wanita baru dapat diindikasikan mengalami blighted ovum bila telah melakukan pemeriksaan USG, itupun saat kehamilan telah memasuki usia 6 hingga 7 minggu. Saat itulah diameter kantong kehamilan sudah lebih besar dari 16 milimeter sehingga bisa terlihat lebih jelas apakah kantong kehamilan tersebut kosong atau tidak.

Bagaimana bisa terjadi?

Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun sel telur yang telah dibuahi tersebut tidak dapat berkembang sempurna. Sel telur berhasil membentuk plasenta dan membran namun gagal membentuk embrio, meskipun demikian plasenta tetap tertanam di dalam rahim.

Plasenta sendiri menghasilkan hormon kehamilan atau HCG (human chorionic gonadotropin) dimana hormon tersebut akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan otak sebagai pemberitahuan bahwa telah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim.

Hormon HCG itulah penyebab munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif. Pasalnya tes kehamilan pada umumnya mengukur kadar hormon HCG yang meningkat.

Selanjutnya yang terjadi adalah terhentinya pertumbuhan plasenta sehingga kadar hormon HCG kembali menurun, dan pada akhirnya gejala kehamilan berangsur menghilang. Biasanya hal tersebut terjadi setelah usia kehamilan 3 bulan, saat itu Moms akan merasa tidak nyaman di daerah sekitar perut dan atau keluar bercak perdarahan.

Faktor risiko

Karena gejalanya tidak spesifik, blighted ovum biasanya baru ditemukan setelah akan terjadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan. Berkisar 60 persen blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, rubella dan streptokokus, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis (seperti adanya antibodi terhadap janin) juga bisa menjadi penyebab. Risiko disinyalir meningkat dengan semakin menuanya usia pasutri karena menurunnya kualitas sperma dan ovum.

Terpaksa dikuret

Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya untuk mempersiapkan kehamilan berikutnya.

Jika penyebabnya infeksi maka dapat diobati agar tidak berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak dapat hamil sungguhan – disarankan agar tidak hamil dulu selama 3 bulan pascakuret agar rahim benar-benar sehat.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya blighted ovum, Moms dapat melakukan beberapa tindakan seperti pemeriksaan TORCH dan imunisasi rubella saat hendak hamil. Bagi Moms yang menderita diabetes mellitus hendaknya selalu mengontrol kadar gula darah. Lakukan pemeriksaan kromosom, utamanya bagi pasutri di atas 35 tahun. Hentikan kebiasaan merokok agar kualitas sperma dan ovum prima. Memeriksakan kehamilan secara rutin serta membiasakan pola hidup sehat merupakan tindakan pencegahan terbaik. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)