Gallery

Zat Pewarna Makanan Sintetik Bikin Anak Hiperaktif


Selama ini beredar kabar yang menyebutkan bahwa gula bisa membuat anak menjadi hiperaktif atau tidak bisa diam. Tapi ternyata zat pewarna makanan sintetik yang bisa membuat anak menjadi hiperaktif.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tidak ada hubungannya antara konsumsi gula dengan anak menjadi hiperaktif, kecuali jika anak tersebut memang sudah didiagnosis memiliki gangguan hiperaktif.

Sedikitnya telah ada 15 penelitian yang jusru menunjukkan bahwa pewarna makanan buatan, khususnya red 40 dan quinoline yellow bisa menyebabkan hiperaktif seorang anak meningkat terutama pada anak yang memang sudah didiagnosis menderita gangguan hiperaktif.

Seperti dikutip dari Healthmad, Kamis (23/9/2010) salah satu psikiater yang terlibat dalam penelitian menyarankan untuk menghindari makanan yang menggunakan zat pewarna dan mengamati perilaku sang anak. Karena dengan menghindari zat pewarna tersebut, maka bisa membantu menghentikan konsumsi obat-obatan seperti Ritalin.

Selain itu sudah ada dua penelitian yang telah menunjukkan hasil serupa pada anak-anak yang tidak memiliki gangguan hiperaktif. Sebagai hasil dari temuan ini, badan standar makanan Inggris telah menginstruksikan produsen makanan untuk menghapus pewarna sintetis dari berbagai produk. Beberapa produk mengganti pewarna sintetis tersebut dengan buah bit, ekstrak annatto dan paprika.

Karena itu para orangtua harus cermat memilih makanan yang akan dikonsumsi oleh anaknya, terutama jika si kecil memang diketahui memiliki gangguan hiperaktif.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menghindari penggunaan zat warna sintetik dalam makanan, yaitu:

1. Bacalah label pada kemasan makanan secara teliti, pertimbangkan setiap bahan yang tercantum dalam kemasan sebelum membeli.

2. Menghindari makanan olahan (processed food). Pewarna dan bahan aditif lainnya akan lebih banyak ditemui dalam makanan kemasan, botol atau kalengan. Selain itu juga perhatikan zat pewarna yang kadang ditambahkan dalam buah-buahan atau sayuran.

3. Buatlah permen atau es sendiri untuk anak-anak. Orangtua tidak bisa mengontrol apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya di luar rumah, karena itu bekali anak dengan cemilan yang menarik tapi sehat. Misalnya orangtua bisa membuat es susu sendiri atau membuat permen dari manisan buah yang dibuat sendiri.

4. Usahakan untuk menghindari makanan atau jajanan di luar yang memiliki warna terlalu cerah atau mencolok, karena biasanya warna-warna tersebut berasal dari zat warna sintetik.

Dibutuhkan usaha ekstra dan juga pengeluaran yang lebih untuk menghindari berbagai zat aditif dalam makanan anak-anak, tapi usaha ekstra ini akan memberikan manfaat kesehatan yang lebih dan juga menghindari anak dari masalah seperti menjadi hiperaktif.

Manfaat Lain ASI: Mencegah Perilaku Buruk Anak Di Kemudian Hari


inmagine.com

LONDON – Hanya empat bulan menyusui dapat mengurangi risiko anak-anak menjadi bersikap buruk hampir sepertiganya, kata hasil penelitian.

Penelitian yang sama menemukan, 16 persen anak-anak yang dibesarkan dengan  susu formula dalam empat bulan pertama kehidupannya memiliki masalah termasuk kecemasan, berbohong, mencuri, dan hiperaktif – lebih dari dua kali lipat mereka yang mendapatkan ASI untuk kurun yang sama.

Ketika pengaruh lainnya diperhitungkan, seperti latar belakang sosial dan ekonomi, pengurangan risiko masalah perilaku pada usia lima tahun disebabkan oleh menyusui 30 persen, menurut penelitian Universitas Oxford.

Studi yang dilakukan terhadap 9.500 ibu dan bayi ini dipimpin oleh Dr Maria Quigley, dari The National Perinatal Epidemiology Unit di Oxford University. Quigley mengatakan kemungkinan alasan untuk temuan termasuk interaksi antara ibu dan anak karena kontak fisik dekat dari usia dini.

Dalam studi itu, bayi yang diteliti yang mendapatkan sedikitnya empat bulan ASI. Orang tua diminta untuk mengisi kuesioner yang dirancang untuk menilai perilaku anak-anak mereka pada usia lima tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 persen anak-anak dengan susu formula dan 6 persen anak-anak disusui diberi skor abnormal, yang menunjukkan masalah perilaku.

Quigley berkata, “Kami menemukan bahwa anak-anak yang diberi ASI selama minimal empat bulan kurang cenderung memiliki masalah perilaku pada usia lima tahun. Namun demikian, pengamatan yang mungkin belum akibat langsung dari menyusui – itu bisa saja ke sejumlah faktor,” katanya.

Ibu baru disarankan untuk menyusui selama enam bulan pertama untuk melindungi bayi mereka dari kembung perut, infeksi dada, asma, eksim, dan alergi. Inggris merupakan negara dengan  tingkat menyusui terendah di Eropa, dengan hampir satu dari tiga ibu-ibu baru tidak pernah mencoba memberikan ASI pada bayinya.