Blog Archives

Bunuh Enterobacter dengan ASI


inmagine.com

JAKARTA, JUMAT – Dugaan pencemaran bakteri pada produk susu dan makanan bayi yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini telah menyebabkan ibu-ibu rumah tangga menjadi resah.

Kekhawatiran para ibu akan dampak pencemaran  terhadap  anak-anak dan bayi sungguh wajar karena produk susu dan makanan bayi instant kini sudah menjadi sumber gizi utama bahkan sebagai pengganti ASI sekalipun.

Menurut pakar mikrobiologi dari IPB Prof Dr. Betty Sri Laksmi Jenie, pencemaran bakteri enterobacter skazakii yang ramai diperbincangkan sebenarnya tidak perlu membuat panik ibu-ibu anndaikata  anak-anak dan bayi mereka pernah atau sedang mendapatkan ASI (Air Susu Ibu).

¨Dalam ASI banyak terkandung bakteri menguntungan (probiotik) yang jumlahnya mencapai miliaran.  Salah satu jenis bakteri menguntungkan itu adalah Bifidobacterium yang nyata-nyata dapat membunuh bakteri merugikan termasuk jenis enterobacter yang hidup di usus,¨ ungkap Prof Betty, kepada kompas.com di kawasan Kuningan Jakarta, Kamis (28/2).

Prof Betty menjelaskan, ASI merupakan makanan terbaik bagi anak di bawah usia satu tahun,  dan bila  bayi sudah perrnah mendapatkannya, kemungkinan mereka terserang bakteri membahayakan akan sangat minim.

¨Dalam usus manusia termasuk bayi, bakteri menguntungkan jumlahnya memang harus lebih banyak dari yang merugikan.  Dengan mendapat ASI ekslusif, jumlah bakteri baik tentu akan  akan sangat banyak sehingga mampu memperkuat kekebalan. jika yang terjadi sebaliknya, maka kemungkinan bayi terserang penyakit akan semakin terbuka,¨ ungkapnya

Menanggapi  infeksi bakteri enterobacter terhadap bayi, Prof  Betty mengatakan kasusnya di Indonesia sebenarnya memang masih sangat jarang.  ¨Kalaupun bayi terinfeksi, biasanya pada bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau pada mereka yang mengalami gizi buruk,¨terangnya

ASI Satu Jam Pertama Selamatkan Bayi


inmagine.com

Konselor air susu ibu (ASI)  Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Amiruddin mengatakan, pemberian ASI  pada satu jam pertama setelah persalinan akan membantu memastikan keselamatan bayi yang dilahirkan.

“Berdasarkan penelitian, menyusui pada satu jam pertama kehidupan menyelamatkan lebih dari satu juta bayi, karena itu masyarakat perlu digerakkan untuk memberikan ASI  pada satu jam pertama agar dapat menyelamatkan bayi,”  ungkapnya pada acara sosialsiasi desa siaga di Yogyakarta, Sabtu (29/11).

Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk melakukan kontak kulit dengan bayi segera setelah lahir, kemudian dilanjutkan dengan menyusui pada satu jam pertama.

“Setiap institusi yang berkaitan dengan kesehatan dianjurkan untuk menjadikan program menyusui pada satu jam pertama sebagai tindakan preventif serta memastikan keluarga dan masyarakat  betapa pentingnya menyusui pada satu jam pertama,” ujarnya.

Mereka harus aktif  menganjurkan dan memastikan bayinya diberi kesempatan mendapat ASI pada satu jam pertama. Ia mengatakan, strategi yang harus dilakukan untuk menempuh progam itu adalah mengembangkan dan menerapkan legislasi yang melindungi perilaku pemberian ASI pada satu jam pertama menyusui.

Selanjutnya, kata dia, meningkatkan kepedulian para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, masyarakat luas dan keluarga tentang pentingnya menyusui pada satu jam pertama.

“Selain itu , mengupayakan agar semua petugas dan sarana pelayanan kesehatan mendukung perilaku menyusui yang optimal,” ujarnya.

Sementara pihak rumah sakit atau sarana  kesehatan lainnya diharapkan  menilai tempat persalinan dan hambatan pelaksanaan menyusui pada satu jam pertama, serta menganjurkan semua pihak untuk mencatat dilaksanakan atau tidak tindakan mulai menyusui pada satu jam pertama.

“Yang juga penting adalah monitoring dan evaluasi pelaksanaan program menyusui pada satu jam pertama, sedangkan petugas kesehatan perlu pendidikan dan latihan tentang bagaimana membantu tindakan menyusui pada satu jam pertama,” katanya.

Ia mengingatkan, para pengambil kebijakan perlu menganjurkan sarana persalinan dan institusi kesehatan terkait lainnya untuk memasukkan  program menyusui pada satu jam pertama sebagai indikator kualitas layanan ibu dan bayi yang terbaik,” tandasnya.

Sumber: Ant

100 Jenis Zat Gizi dalam ASI


inmagine.com

Penelitian medis menunjukkan air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi. Lebih dari 100 jenis zat gizi, terdapat dalam ASI antara lain AA, DHA, Taurin dan Spingomyelin yang sangat baik bagi pertumbuhan otak anak. Sebagai ibu, tentunya Anda ingin memberikan yang terbaik untuk si kecil, untuk itu berikanlah bayi Anda ASI ekslusif selama enam bulan.

Bayi, tidak perlu diberikan makanan apapun sebelum berusia enam bulan, karena kandungan dalam ASI sudah memenuhi kebutuhan gizi si kecil. “Saat ini di Indonesia masih ada kebiasaan untuk memberikan makanan tambahan pada usia 5 minggu.

Hal itu nantinya bisa berefek pada masalah pencernaan si anak saat ia beranjak dewasa, karena lambungnya dipaksa mengolah makanan yang belum seharusnya diterima,” kata dr. Abidinsyah Siregar M. Kes. Kepala Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI, saat ditemui dalam diskusi Kemitraan untuk Membangun Generasi Anak Indonesia yang Lebih sehat di Crowne Plaza, Jakarta 17 Juni 2009.

Untuk merangsang agar produksi ASI, usahakanlah untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) setelah Anda melahirkan baik normal maupun operasi caesar. Hal itu akan melatih naluri bayi untuk mencari dan menghisap puting susu ibu, dan akan merangsang produksi ASI. ASI diproduksi sesuai hukum permintaan, jadi semakin sering bayi menghisap payudara ibu maka makin banyak ASI yang diproduksi.

Selain itu, ibu harus mengonsumsi makanan yang bergizi tinggi seperti ikan, sayuran, buah-buahan, dan susu, agar ASI yang dihasilkan berkualitas dan memenuhi gizi bayi. Aspek psikologis juga sangat mempengaruhi produksi ASI. Jika ibu stres atau kelelahan, bisa menurunkan produksi ASI.Untuk itu, dukungan lingkungan sangat diperlukan dalam pemberian ASI eksklusif.

Dalam memilih rumah sakit atau klinik Anda juga harus lebih selektif. Banyak rumah sakit atau klinik yang tidak mendukung ibu memberikan ASI eksklusif, bahkan ada beberpa rumah sakit yang memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir tanpa persetujuan orangtuanya. Alasan rumah sakit biasanya karena ASI belum keluar, padahal bayi yang baru lahir mampu bertahan selama tiga hari tanpa susu.

Untuk itu, sebelum Anda melahirkan tekankan pada dokter dan perawat kalau Anda akan memberikan ASI ekslusif dan katakan juga pada mereka jangan memberikan susu formula tanpa persetujuan Anda. Jika bayi menangis dan ASI belum juga keluar Anda tidak perlu panik. Sodorkan saja puting Anda, dan biarkan bayi menghisapnya. Bayi akan merasa lebih tenang dan payudara Anda juga dirangsang untuk memproduksi ASI.

ASI akan keluar setelah dua sampai tiga hari setelah melahirkan. Jika setelah dua sampai tiga hari ASI belum juga keluar, konsultasikan dengan dokter Anda. Memberikan ASI eksklusif memang dibutuhkan usaha yang lebih.

Untuk itu, jangan mudah menyerah dan mintalah dukungan orang-orang di sekeliling Anda. Ingatlah kalau memberikan ASI tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik anak tetapi juga intelektual, mendekatkan hubungan ibu dan anak dan juga kesehatan ibu. Selamat menyusui! • VIVAnews

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 621 other followers

%d bloggers like this: