Alternatif Sehat Bagi Si Kecil


inmagine.com

Tubuh bayi itu tampak kurus dan lemah. Terdapat benjolan sebesar bola bekel di selangkangan dan ketiaknya. Kondisi bayi yang berumur empat bulan itu sudah kritis ketika dibawa oleh ibunya ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma, Jakarta. Dokter yang memeriksa menyimpulkan bayi tersebut sakit karena keracunan susu formula. Ibu sang bayi mengaku menderita hepatitis sehingga tidak mampu menyusui.
Melihat kondisi tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Farahdibha Tenrilemba kemudian memberikan akses kepada bayi itu agar mendapatkan donor air susu ibu (ASI). Selain itu, sang ibu juga diberi pelatihan agar dapat menyusui bayinya. Mengurangi ketergantungan bayi kepada susu formula, menurut dia, bukan perkara gampang. Perubahan rasa manis ke tawar biasanya yang menjadi penyebab bayi tidak menyukai ASI. Namun, dengan proses merangsang produksi ASI atau relaktasi, kendala tersebut bisa disiasati.

Ada banyak alasan para ibu tidak memberikan ASI esklusif. Sebagian besar, menurut Farahdibah, karena faktor psikologis. Tekanan pekerjaan, produksi ASI sedikit, dan tidak mendapat dukungan keluarga biasanya yang menjadi pemicu. Padahal secara statistik, hanya satu dari seribu ibu yang tidak dapat menyusui bayinya. Namun, ada juga alasan medis yang membuat wanita tidak dapat menyusui, seperti terinfeksi HIV, tuberkolosi, atau kekurangan gizi. Jika hal itu terjadi, maka susu formula bisa menjadi pilihan terakhir dalam mencukupi kebutuhan gizi bayi.

Susu formula berasal dari susu sapi segar yang telah melewati proses pasteurisasi atau pemanasan pada suhu tinggi. Beberapa produsen kemudian menambah kandungan kalori, protein, dan mineral yang tinggi pada susu, sebelum dikemas dengan steril. Jenis susu ini mudah diserap pencernaan bayi karena memiliki komposisi lemak yang tidak panjang.

Menurut Sekretaris Jenderal Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia, dokter Saptawati Bardosono, penggunaan susu formula harus berdasarkan rekomendasi dokter. Komposisi susu formula memang disusun mendekati gizi ASI. Tapi produk itu bukan berarti tanpa risiko bagi si kecil. Penelitian yang dilakukan di negara maju menunjukkan ada banyak risiko dari meminum susu formula. Infeksi telinga tengah, diare, asma, kegemukan, diabetes mellitus, hingga sindrom kematian bayi mendadak, hanyalah sebagian dari risikonya bila digunakan secara tak hati-hati.

Karena itu, ahli naturopati Riani Susanto merekomendasikan bayi meminum susu organik yang berasal dari hewan atau tumbuhan sebagai penggganti susu formula. Susu kemasan ataupun formula yang berasal dari perahan sapi industri, menurut dia, tidak aman dikonsumsi. Sapi-sapi itu biasanya telah disuntik hormon dan diberi antibiotik sehingga mencemari susu.

Hewan-hewan yang menghasilkan susu organik dipelihara secara alami di lahan terbuka, tanpa diberi hormon, antibiotik atau rekayasa genetik. Untuk susu dari kedelai, tanamannya tidak diberi pestisida dan bahan kimia lain. Produk akhir susu organik diolah tanpa perasa dan pemanis buatan. Proses pembuatan ini membuat harganya lebih mahal dibanding susu kemasan lain. Di negara maju jenis susu tersebut sudah banyak diproduksi. Alokasi subsidi pemerintah ke sektor peternakan turut mendorong keberhasilan produk tersebut. Para peternak menjadi melek teknologi, sadar pada kelestarian lingkungan, dan risiko kesehatan.

Di Indonesia produk susu organik masih jarang diperjualbelikan. Para peternak lokal masih dalam tahap menyediakan susu segar. Namun, hewan atau tanaman penghasil susunya belum diolah secara organik. Susu segar lokal biasanya telah melewati proses pasteurisasi, kemudian dikemas dengan steril, tanpa tambahan kandungan gizi. Namun karena susu segar biasanya berasal dari industri rumahan, faktor kebersihan dan kandungan nutrisi di dalamnya biasanya tidak terjamin. Saptawati tidak menyarankan anak berumur di bawah satu tahun mengkonsumsi susu segar.

Susu sapi murni, kata dia, memiliki kandungan protein dan garam mineral tinggi. Hal ini membuat susu sulit dicerna usus bayi dan membebani fungsi ginjal. “Kandungan gizi susu sapi murni tidak sesuai dengan kebutuhan bayi,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Hal serupa juga terjadi untuk susu yang berasal dari hewan lainnya. Susu kedelai, menurut dia, bukanlah susu, dalam arti bisa memberi zat gizi untuk bayi. Ia menyarankan bayi yang diberi susu kedelai tetap diberikan ASI atau susu formula sesuai dengan rekomendasi dokter.

Orang tua bisa memberikan susu segar kepada anak berusia satu hingga lima tahun, sebagai alternatif susu sapi formula. Metabolisme anak umur satu hingga lima tahun sudah dapat mengkonsumsi susu cair. Dari segi harga, susu segar relatif lebih murah dibandingkan susu formula. Bahan bakunya bisa berasal dari susu hewan atau keledai.

Selain dari sapi, susu segar yang umum dipasarkan saat ini adalah susu kambing. Susu ini memiliki asam lemak lebih pendek ketimbang dari sapi sehingga mudah dicerna anak. Selain itu, susu kambing bisa menjadi pilihan untuk anak yang menderita alergi terhadap susu sapi, baik dalam bentuk bubuk maupun cair. Alergi bisa terjadi karena anak tidak punya atau kekurangan enzim laktase sehingga tidak mampu mencerna laktosa dalam susu sapi.

Kandungan serat susu kedelai bermanfaat memberi energi pada anak, ditambah lagi vitamin B, E, dan K yang terdapat pada susu ini. Meski kandungan proteinnya lebih rendah dibanding susu sapi — dua gelas susu kedelai setara dengan satu gelas susu sapi-namun harganya lebih lebih murah dibandingkan jenis susu lain, menjadikan susu kedelai sebagai alternatif yang baik.

Dokter spesialis anak Rifan Fauzie menilai, anak berumur satu hingga lima tahun membutuhkan susu sebagai pelengkap gizi. Anak yang sudah dapat menerima makanan padat, membuat asupan protein bisa diperoleh dari tempe, tahu, dan kacang-kacangan.

Orang tua yang memilih susu segar untuk anak, harus memperhatikan proses penyajian dengan benar. Seringkali dalam porses pasteurisasi ataupun pemanasan, kandungan vitamin dan mineral pada susu malah hilang. Ditambah lagi, pemrosesan yang tidak benar membuat bakteri jahat pada susu masuk ke tubuh anak.

Jika bayi tidak memiliki akses terhadap ASI dan susu formula karena faktor keuangan, Rifan menyarankan orang tua kembali ke air tajin. Air ini merupakan cairan hasil dari menanak nasi. Kandungannya terdapat karbohidrat yang berasal dari beras, tapi gizinya jauh di bawah susu hewan, kedelai, ataupun ASI. “Tapi ini harus alternatif paling akhir.”(tempointeraktif)