Blog Archives

ASI Dongkrak IQ Bayi

Melawan Hambatan Menyusui


 

inmagine.com

Niat memberikan ASI eksklusif kepada bayi seringkali terhalang berbagai masalah payudara.

Air susu ibu (ASI) terbukti sebagai makanan terbaik untuk bayi. Bagi ibu muda yang baru saja melahirkan bayi, pasti selalu ingin memberikan ASI secara ekslusif.

Namun, berbagai hambatan saat memberikan ASI esklusif seringkali membuat sejumlah ibu putus asa. Berikut beberapa hambatan yang kerapkali dialami banyak ibu saat menyususi dan cara mengatasinya.

1. Puting susu terbenam
Cara mengatasinya: Saat memasuki usia kehamilan tujuh bulan, mulailah membiasakan diri menarik puting susu dengan jari tangan sampai menonjol. Jika perlu, gunakan bantuan pompa susu. Jika si ibu memiliki puting terbenam, tidak perlu khawatir, yang penting ibu berkemauan keras untuk menyusui.

2. Payudara bengkak
Saat mulai menyusui, pada hari ke-3 atau ke-4, payudara sering terasa lebih penuh dan tegang disertai rasa nyeri. Jangan panik, jika Anda merasakan hal ini.

Cara mengatasinya : Keluarkan ASI dengan pompa atau dengan tangan bila ASI melebihi kebutuhan bayi. Untuk mengurangi rasa sakit, kompres dengan air hangat dan lakukan pijatan lembut mulai dari puting ke arah pangkal payudara.

3. Puting lecet dan nyeri
Kondisi ini biasanya akibat posisi menyusui salah. Biasanya terjadi ketika puting susu belum meregang, namun isapan bayi sangat kuat.

Cara mengatasinya: Mulailah menyusui dengan payudara yang tidak sakit saat bayi belum terlalu lapar agar isapannya tidak terlalu kuat. Perbaiki cara mengisap yakni bibir bayi menutup areola di antara gusi atas dan bawah.

Perhatikan pula cara melepaskan mulut bayi setelah selesai menyusui. Letakkan jari kelingking di sudut mulut bayi, keluarkan sedikit ASI untuk dioleskan pada putting selesai menyusui. Jangan membersihkan puting dengan sabun dan alkohol. Jika lecet tidak sembuh dalam seminggu segera ke puskesmas atau ke rumah sakit terdekat.

4. Saluran ASI tersumbat
Payudara bengkak dan pemakaian bra yang ketat dapat mengakibatkan penyumbatan saluran ASI.
Cara mengatasinya : Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, kompres air hangat sebelum menyusui dan kompres air dingin setelah menyusui.

5. Radang payudara
Radang pada payudara biasanya terjadi pada minggu ke-1 atau ke-3 setelah melahirkan. Tanda-tandanya adalah, kulit payudara tampak lebih merah, payudara mengeras, nyeri dan muncul benjolan.

Cara mengatasinya: Tetaplah menyusui bayi Anda dalam kondisi semacam itu. Yang diperlukan adalah melakukan pijatan lembut pada payudara secara teratur. Bila disertasi demam dan nyeri dapat diberi obat penurun demam dan penghilang rasa nyeri. Segera rujuk ke Pusekesmas atau rumah sakit jika kondisinya semakin parah.

6. Produksi ASI kurang
Cara mengatasinya: Perhatikan suasana emosi, sebab keluarnya ASI juga bisa dipengaruhi oleh suasana hati si ibu. Perlu menjaga ketenangan pikiran, cukup istirahat dan mempertinggi rasa percaya diri akan kemampuan menyusui bayi. Konsumsi lebih banyak makanan dan minum minimal delapan gelas sehari. (pet) • VIVAnews

Artikel Terkait :

Stimulasi dan Nutrisi Penting untuk Bayi


inmagine.com

Seorang bayi, Aksamaldi (5 bulan), terbaring lemah dalam gendongan ibunya karena muntah dan buang air besar selama seminggu di kamp pengungsi Cot Gapu, Bireuen, NAD. Ia sempat dirawat dan menerima infus di rumah sakit selama 3 hari. Kondisi kamp di udara terbuka dan gizi yang kurang menyebabkan ia sakit.

KEBUTUHAN stimulasi atau upaya merangsang anak untuk memperkenalkan suatu pengetahuan ataupun keterampilan baru ternyata sangat penting dalam peningkatan kecerdasan anak. Stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon bayi berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan, janin sudah dapat bernapas, menendang, menggeliat, bergerak, menelan, mengisap jempol, dan lainnya. Sedangkan stimulasi utama diberikan khusus untuk anak usia 0 – 7 tahun.

Di dalam perkembangan seorang anak, stimulasi merupakan suatu kebutuhan dasar. Stimulasi dapat berpe-ran untuk peningkatan fungsi sensorik (dengar, raba, lihat rasa, cium), motorik (gerak kasar, halus), emosi-sosial, bicara, kognitif, mandiri, dan kreativitas (moral, kepemimpinan). Selain itu, stimulasi juga dapat merangsang sel otak (sinaps). Demikian terungkap dalam diskusi dan workshop bertema “Enfa A+ Smart System: Perpaduan Stimulasi dan Nutrisi Menuju Kecerdasan Optimal”, di Jakarta, pekan lalu. Diskusi ini menghadirkan beberapa pembicara yaitu, Mayke S. Tedjasaputra (Psikolog dan Play Therapist), Hartono Gunardi (Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM), dan Soepardi Soedibyo (Konsultan Gizi Anak RSCM).

Seorang pembicara, Hartono Gunardi, mengatakan, sel otak pada bayi dibentuk semenjak 6 bulan masa kehamilan. Karena itu, proses stimulasi sudah bisa dan harus dilakukan semenjak usia janin 23 minggu. Dalam masa kehamilan, proses stimulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti rangsang suara (adanya efek Mozart), gerakan perabaan, bicara, menyanyi, dan bercerita.

Menurut Hartono, semakin dini dan semakin la-ma stimulasi itu dilakukan, maka akan semakin besar manfaatnya. Katanya, ada beberapa tahapan kegunaan dari proses stimulasi pada bayi ketika pertama kali dilahirkan. Pada usia bayi 0 – 6 bulan, penyesuaian dan persepsi ibu dapat terbentuk melalui proses stimulasi. Sedangkan, pada usia 0 – 36 bulan intelektual dan perilaku mulai terbentuk. Sementara pada usia 0 – 48 bulan, kognitif , dan 0 -96 bulan keahlian membaca dan menulis perlu dirangsang. “Stimulasi semenjak dini juga sangat diperlukan dalam merangsang perkembangan otak, baik itu otak kanan maupun otak kiri,” tambahnya.

Sementara itu, Psikolog dan Play Therapist, Mayke S Tedjasaputra, mengatakan, respons terhadap suara dan vibrasi tampaknya dimulai pada usia 26 minggu masa kehamilan dan meningkat sampai akhirnya menetap pada usia 32 minggu. Ia menceritakan, ada suatu penelitian yang meneliti tentang respons janin berusia 26 minggu yang diperdengarkan sebuah cerita secara terus menerus oleh ibunya.

Hasilnya, kata Mayke, di usia 3 hari setelah kelahirannya, bayi tersebut ternyata menghisap putting ibunya secara lebih aktif dibandingkan ketika mendengar dua cerita lain yang jarang diceritakan oleh ibunya. “Respons terhadap suara ibu pun lebih aktif bila dibandingkan respons terhadap suara-suara orang lain,” ujarnya melanjutkan cerita.

Menurut Mayke, usapan halus yang dilakukan di perut ibu yang sedang mengandung juga diperlukan untuk membuat janin merasa tenang. Katanya, bila janin banyak bergerak, seorang ibu dapat melakukan usapan lembut pada perutnya. Tetapi, sekalipun stimulasi untuk janin diperlukan, dalam pelaksanaannya haruslah dilakukan secara bijaksana. “Jangan sampai orang tua terlalu bersemangat menstimulasi janinnya sehingga lupa kebutuhan janin untuk beristirahat,” tambahnya

Dalam penjelasannya, Mayke menegaskan akan pentingnya bermain dalam proses stimulasi yang dilakukan pada anak. Sebab, menurut Mayke bermain adalah dunia kerja anak. “Nah dalam proses bermain inilah penyediaan waktu orang tua untuk menjadikan sarana bermain sebagai media efektif peningkatan kecerdasan anak sangat diperlukan,” tambahnya.

DHA-ARA

Di lain hal, Soepardi Soedibyo dalam penjelasannya, mengatakan akan pentingnya zat asam dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakhidonat (ARA) pada bayi. Menurutnya, zat DHA-ARA sangat diperlukan dalam proses perkembangan kecerdasan bayi, baik ketika masih didalam kandungan maupun setelah lahir.

Kandungan DHA dan ARA telah teruji secara klinis membantu perkembangan otak dan meningkatkan ketajaman penglihatan. “Ketika sebelum lahir, suplai zat ini diberikan oleh ibu melalui plasenta, sedangkan setelah lahir diberikan melalui Air Susu Ibu atau ASI,” ungkapnya. Oleh karena itu tambahnya, ASI merupakan satu hal yang penting bagi seorang ibu untuk diberikan kepada bayi. Menurutnya, bayi yang mendapatkan ASI, tingkat IQ atau kecerdasannya lebih baik.

Kematangan sistem imun pada bayi yang diberikan ASI juga lebih baik daripada formula biasa. “Sebab, kandungan DHA-ARA terdapat pada ASI, bukan pada susu sapi,” terangnya.

Soepardi menambahkan, proses pemberian ASI pada bayi yang paling baik adalah pada masa enam bulan pertama setelah lahir. Pada masa itu, kandungan LC-PUFA (asam lemak yang diperlukan pada saat pembentukan sel membran, otak dan penglihatan) cukup dipenuhi kebutuhannya bagi bayi. Bayi baru lahir tidak mampu mensintesiskan secara keseluruhan untuk kebutuhannya, sehingga perlu mendapat AA dan DHA yang berasal dari LC-PUFA dari ibu semasa kehamilan.

Selain berguna bagi bayi, pemberian ASI pada bayi dikatakan Soperdi sangat memberikan keuntungan pada seorang ibu. Risiko keganasan pada payudara, ovarium, dan uterus, maupun osteoporosis dapat dikurangi dengan memberikan ASI pada bayi. “Keuntungan yang lain adalah mempercepat penyembuhan sesudah melahirkan dan pengembalian berat badan,” tambahnya. (YAN/E-5)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/

Mozart Music Effect and Research


Wolfgang Amadeus Mozart

Biography

Wolfgang Amadeus Mozart Austrian composer born in Salzburg, January 27, 1756, died in Vienna on 05 December 1791.

Wolfgang Amadeus Mozart is one of the most emblematic composers of classical music. Equipped with exceptional musical gifts, he composed at the age of 6 years. His father, renowned musician, he made a tour of European capitals: the astonishing prodigy, the tour lasts nine years! Employed as organist by Count Colloredo of Salzburg, Mozart feels trapped in a framework set by the commands and eventually resigned.

Based in Vienna with his wife, Constanze Weber, the composer is experiencing good times, ranging from concerts and compositions in the audience cheered. Affected by the death of his father in 1787, he composed the dark opera ‘Don Giovanni’ is not understood by the Viennese public. The last years of his life are those of his finest compositions, including “Cosi fan tutte ‘(1790) and’ The Magic Flute ‘(1791) but his wife’s health is weakening and the couple is in debt. Mozart, whose genius will never be truly recognized in his lifetime, died in the quasi-indifference to 35 years, leaving a ‘Requiem’ incomplete, that some see as a real musical testament.


Researchers Israelis seem to have made an odd discovery … To listen to Mozart every day to promote their premature baby grow!

For their experiment, the researchers listen for thirty minutes of Mozart’s compositions in a group of twenty preterm infants. The next day, they measured the energy expenditure of these babies, no music this time. By listening to Mozart and premature spend 10% less energy, which would help them grow and develop.

The researchers also explain that Mozart’s music seems more beneficial than other composers, because repeating the main melody is more marked. Listening to him, would also have premature heart beat and breathing slower.

On their tiny heads, newborns have a stereo headset and their small hands move to the rhythm of the music. A hospital in Kosice-Saca, in eastern Slovakia, babies listen to Mozart in the early hours of life.

The goal is not to produce a generation of brilliant musicians, but to stimulate mental and physical functions of infants with the benefits of music therapy.

“Childbirth is a very difficult process and for each baby represents an enormous stress,” said AFP Mrs. Slavka Viragova, chief physician of the maternity hospital in Kosice-Saca, who introduced the draft .

“In the belly of the mother, the child listens to the heartbeat of his mother, who represents for him a source of protection and positive emotions. For the baby remembers her mother in the period immediately following childbirth when it is not with her, we make him listen to music, “she said.

In a room with walls and windows decorated with drawings of animals from fairy tales, a dozen infants in jersey are placed in small beds, one beside the other in two rows. They listen to music and sleep quietly.

From time to time they open their eyes, move, yawn and grimace. Next door is another room with incubators for infants born prematurely or with health problems. They also listen to music.

“We’ve noticed that a well-selected music therapy helps to improve congestion of bodies in infants born prematurely thus stabilizing their breathing. In general, music therapy helps a baby to increase weight, get rid of stress and to cope with the pain, “says Viragova.

Mother of two son of 15 and 12 years, Slavka Viragova has applied this method to his own children. It made them listen to Mozart’s compositions. “It was noted that Mozart’s music has a very good effect on the development of IQ,” says she. At the hospital, infants listen five or six times a day a piece of ten minutes of a classic work of Mozart, a composition for piano by Richard Clayderman, a mix of jungle sounds or of relaxing music.

“The music is very gentle and quiet intensity is between 30 and 50 decibels that can compare to the sound of a normal walking or opening a door,” said the chief doctor. Most often, the music is played throughout the piece and also reduces stress nurses often overwhelmed with 20 to 30 babies are permanently present in the maternity ward. Helmets are used to create the baby a more quiet atmosphere and relaxing.

Some babies throughout the day with their mothers when they feel strong enough after childbirth. These rooms are equipped with small stereos. It is therefore possible to make their own CDs and cassettes.

This project is unique in Slovakia and Central Europe, started two years ago and was very well received by the women delivered. “It is certainly a very good idea and the influence on the baby is very positive,” said Livia Oliarova, 30, whose second son, Adrian, is born in the maternity Kosice-Saca. “We’ll probably continue to listen to music even at home,” she said.

The hospital is now a little victim of his fame. And some women are willing to travel hundreds of miles to give birth in this maternity hospital, just east of Slovakia.

Top Articles :

Genetik, Nutrisi dan Lingkungan mempengaruhi Perkembangan Otak Janin


inmagine.com

Jakarta – Siapa tidak ingin memiliki anak cerdas. Konon, kecerdasan anak dapat dikembangkan sejak dalam kandungan. Untuk mendukung perkembangan otak janin, tidak cukup hanya diberi nutrisi saja. Mengelus-elus perut ibu hamil juga bisa memicu perkembangan otak janin. “Stimulasi ini seperti dengan mengusap-usap perut ibu hamil dan mengajak bicara janin. Dengan sering melakukan stimulasi seperti itu, maka jaringan sinaptogenesis atau hubungan antar syaraf semakin banyak,” kata dokter spesialis anak Dr Attila Dewanti Sp.A. Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk “Mengembangkan Kecerdasan Anak Sejak dalam Kandungan” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9/2007).

Attila mengatakan, mengusap perut dan mengajak bicara janin juga bisa meningkatkan hubungan bapak-ibu dengan anaknya. Selain itu juga bisa mematangkan emosi anak, sehingga ketika dewasa tidak mudah depresi. Menurut dia, faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan otak ada 3 yaitu, genetik, nutrisi dan lingkungan. Nutrisi yang diperlukan untuk perkembangan otak janin antara lain protein, karbohidrat, vitamin, mineral, serta AA dan DHA untuk perkembangan otak dan retina mata. Untuk faktor genetik, orangtua yang cerdas, kemungkinan besar akan memiliki anak yang cerdas pula. Sebab dari faktor genetik ini, sekitar 50-60 persen yang diturunkan. Sedangkan faktor lingkungan salah satunya adalah mengelus perut dan mengajak bicara janin. (nvt/ken)

Sel Otak Janin akan Rusak Jika Kurang Stimulasi


inmagine.com

Meski berada di dalam kandungan, bukan berarti bayi tidak bisa merasa respons dari luar. Justru respons yang merupakan bagian dari stimulasi bisa meningkatkan kecerdasan anak. Psikolog anak dan keluarga Rusyika Thamrin Psi, CBA, CPHR menjelaskan, pada usia 3 minggu kehamilan otak bayi mulai dibentuk. Lalu di usia 20 minggu bayi telah memproduksi seluruh sel otak yang dibutuhkan selama hidupnya. “Pada usia 7 bulan, bayi mulai kehilangan sel otak yang tidak distimulasi. Pada usia 8 bulan sekitar 40-75 persen sel otak bayi akan rusak akibat kurangnya stimulasi,” jelas perempuan yang akrab disapa Tika ini. Hal itu disampaikan dia dalam diskusi bertajuk “Mengembangkan Kecerdasan Anak Sejak dalam Kandungan” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9/2007). Ada berbagai macam cara untuk stimulasi otak bayi. Pada usia kehamilan 20 minggu, mulailah memperdengarkan berbagai jenis musik dan bahasa asing kepada bayi. “Mozart sangat disarankan karena iramanya yang rileks dan tenang,” imbuh perempuan berkerudung ini. Pada usia kehamilan 22 minggu, stimulasi perabaan sudah diperlukan. Caranya adalah dengan memijat bayi melalui pusar dan perut ibu. “Saat bayi menendang responslah dengan menekan perut dengan lembut,” lanjut Tika. Di usia kehamilan 26 minggu, stimulasi penglihatan harus sudah dilakukan. Caranya adalah dengan mengarahkan senter ke arah perut dengan menyalakan dan mematikannya sebanyak 3-4 kali. “Stimulasi prenatal itu bisa meningkatkan kemampuan visual, auditori, dan motorik bayi,” imbuh Tika. Ditambahkan dia, bayi akan merasa tenang jika didengarkan musik yang biasa didengar saat masih di kandungan. Bayi juga akan menunjukkan kapasitas belajar yang tinggi, memiliki IQ yang lebih tinggi dan lebih kreatif, serta bayi lebih percaya diri. “Nantinya bayi ini akan menjadi bayi yang dinamis, rileks, dan penuh inisiatif. Dia juga akan mudah tertawa dan menyesuaikan diri secara sosial, serta memiliki koordinasi fisik yang baik,” tutur Tika. (nvt/nrl)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 662 other followers

%d bloggers like this: