Penyebab Balita Susah Makan dan Solusinya


inmagine.com

Acara memberi makan bayi jadi mengesalkan karena
belakangan ini Si Kecil malas-malasan menelan setiap
suapan. Kalau tidak disembur, ya diemut. Mengatasinya?

Menjelang genap satu tahun, Bobby punya “hobi” baru.
Si Gembul yang tadinya doyan makan dan mudah sekali
disuapi, kini sering memuntahkan setiap suapan dengan
jalan menyemburkan makanan dari dalam mulutnya. Ini
hampir tiap hari terjadi, padahal ibunya sudah
berusaha membangkitkan selera makan bayinya dengan
sajian bervariasi, lho.

“Lho, Bening anakku juga gitu. Cuma makanannya bukan
disembur,
tapi diemut. Jadi tetap saja makannya susah, dua jam
baru habis semangkuk,” keluh ibu muda lainnya, juga
baru punya satu anak bayi.

Bagi ibu yang biasanya tidak punya masalah dalam
memberi makan bayinya, saat anak punya kebiasaan baru,
menyemburkan atau mengemut makanan, tentu membuat ibu
cemas. Biasanya kehawatiran yang muncul adalah
ketakutan nutrisi bayi tidak tercukupi. Habis, makanan
susah masuknya…

Mekanisme Diet

Menurut Dr. Sri Enggar Sp. A (K) Spesialis Penyakit
dan Konsultan Masalah Anak, sesungguhnya ibu tidak
perlu terlalu khawatir menghadapi perilaku bayi
seperti Bobby atau Bening. Katanya, hampir setiap bayi
mengalami fase “sembur dan emut” seperti itu, kok.
Perilaku bayi memuntahkan atau menyemburkan makanan
bukan karena bayi kehilangan selera makan. Yang lebih
mungkin terjadi adalah bayi sedang menempatkan diri
dalam diet pemeliharaan tubuh. “Karena, jika bayi
makan seperti yang ia lakukan di usia kurang dari satu
tahun pertama hidupnya, ia akan mengalami kenaikan
berat badan dengan kecepatan sama. Jika ini terjadi,
tidak lama lagi bayi Anda
akan lebih mirip bola ketimbang bayi,” ungkap Enggar,
seraya tersenyum.

Sebagian besar bayi mengalami kenaikan Berat Badan
(BB) tiga kali
BB lahir ketika ia berusia satu tahun. Misal, jika
saat lahir bayi ber-BB empat kilogram, maka di akhir
usia setahun BB-nya mencapai duabelas kilogram (3 X 4
kilogram). Pada tahun kedua bayi hanya menambahkan
kira-kira seperempat dari berat lahirnya. Jadi, bayi
yang lahir dengan BB empat kilo, pada tahun kedua
hanya akan menambah BB-nya 1 kilogram (1/4 X 4
kilogram). Tak heran bila pertumbuhan BB bayi pada
tahun kedua lambat. “Jadi menurunnya selera makan bayi
saat ini adalah cara tubuh bayi menjamin adanya
penurunan kenaikan berat
badan,” ujar Enggar.

Nah, setiap bayi memiliki perilaku berbeda-beda dalam
fase
ini. Ada bayi yang sama sekali tak mau membuka
mulutnya saat
disuapi. Ada yang mau memasukan makanan ke dalam mulut
tetapi
memuntahkan/menyemburkanya kemudian – sebetulnya tidak
semua makanan dimuntahkan, karena pasti ada yang
masuk. Ada juga bayi yang berusaha mengurangi jatah
makannya dengan mengemut makanan lama-lama di mulut,
sampai ibu atau pengasuh bosan, sehingga bayi tidak
perlu menghabiskan seluruh isi piring, sebab
“menyerah” pada suapan kelima atau tujuh – “Yang
penting sudah banyak yang masuk,” alasan ibu.

“Semua harus dihadapi orangtua dengan sabar, dan tidak
perlu negative thinking atau sampai mencekoki bayi
makanan segala, karena kalau itu yang terjadi malah
tidak sehat karena dapat membuat bayi trauma,” saran
Enggar.

Selain faktor mekanisme diet, ada juga faktor lain
yang dapat memicu perilaku bayi tersebut. Salah
satunya adalah bertambahnya minat bayi terhadap dunia
di sekitarnya. Saat ini jadwal makan justru terasa
“sangat mengganggu” bayi, lantaran ia sebenarnya ingin
terus bergerak, bukannya duduk manis untuk makan. Ada
begitu banyak hal yang dapat dilakukan dan dapat
dilihat, sehingga jadwal makan hanyalah menyita waktu.
“Selain itu, di usia bayi menuju batita kemandirian
bayi mulai tumbuh. Ini mempengaruhi reaksinya pada
makanan yang disantapnya. Bayi yang sedang dalam
proses berkembang menjadi batita memutuskan dialah
yang menjadi tuan di meja makan, bukan orangtua atau
pengasuhnya. Karena itu bayi mulai memilih makanan
yang ingin dikonsumsi,” tutur Enggar.

Dokter yang pratik di RSCM Jakarta ini melanjutkan,
bisa saja kemarin bayi semangat manyantap bubur beras
merah, tapi hari ini menolak mati-matian memakannya.
Dalam keadaan ini sebaiknya orangtua mengikuti kemauan
bayi dulu. Pastikan saja bayi mendapat makanan
pengganti, misal, snacking bergizi dan susu. Toh,
kebiasaan ini akan berlalu juga.

Atau Memang Ada Masalah?

Jika orangtua meragukan penolakan bayi terhadap
makanan karena sebab psikologis di atas, Enggar tidak
menyalahkan, memang ada juga kemungkinan bayi
mengalami masalah atau gangguan fisik yang
mempengaruhi minat makan. “Yang paling sering terjadi
adalah karena tumbuh gigi, ” kata Enggar, terutama
saat gigi geraham bayi tumbuh menembus gusi.

Jika ini penyebabnya, kebiasaan bayi memuntahkan atau
menyembur makanan akan disertai mood mudah marah, suka
menggigit jari, mulut mengeluarkan ludah berlebihan,
kadang disertai demam. “Pertumbuhan ini memang membuat
rasa tidak enak pada bayi sehingga ia menolak makan.
Sebaiknya periksakan kondisi ini pada dokter saat
imunisasi bayi,” saran Enggar.

Bayi yang sedang tidak enak badan seperti batuk-pilek
juga bisanya melakukan aksi serupa. Sedang bila Anda
mengkhawatirkan sebab lain yang lebih serius, misal,
bayi mengalami problem susah menelan, sebaiknya
mintalah pemeriksaan pada dokter, meski Enggar
menyatakan hal ini kecil kemungkinannya, terutama jika
dulunya bayi tidak pernah berulah demikian. “Satu hal
yang saya tekankan, orangtua jangan menjadi emosi
mengahadapi ulah bayi ini. Bila Anda tetap ingin ada
makanan yang masuk ke mulut bayi lakukan trik-triknya.
Jangan melakukan pemaksaan karena hanya akan
menimbulkan problem makan yang kronis.”

Trik Tangkal Sembur

Ganti makanannya
Beberapa makanan tampak dramatis saat disemburkan dari
mulut bayi, misal, bubur, sereal, yoghurt. Tapi coba
ganti dengan makanan berbentuk irisan kasar khusus
untuk tumbuh gigi, seperti irisan wortel, pisang, ubi
rebus, atau roti. Efek “seru” saat makanan disemburkan
yang hilang, akan mengurangi setengah motivasi anak
menyemburkan makanan.

Beri kesempatan anak makan sendiri
Dengan makan sendiri anak akan terlalu sibuk untuk
menyembur dan mengemut karena tugas barunya makan
sendiri sangat menarik hatinya.

Biarkan Sendirian
Jika tidak ada “penonton” anak tidak akan mendapatkan
kepuasan dari “pertunjukannya”, dan akan merasa enggan
meakukannya. Letakkan makanan di hadapannya, dan
sibukkan diri Anda. Jika Anda mendengar suara
semburannya, jangan menoleh.

Hentikan Acara Makan
Dengan wajah dingin, beri anak peringatan tegas,
“Jangan menyemburkan makanan”. Jika ia mengulang
perbuatannya, ulangi peringatan. Jika ia mengulang
lagi hingga tiga kali, segera singkirkan makanan. Anak
akan segera mengetahui maksud Anda.