Gallery

Anak Terlambat Bicara, Bisa Jadi Kelainan Genetik


inmagine.com

Bila anak terlambat bicara, orangtua layak bingung. Namun, jangan lalai untuk segera mencari terapi. Memang ada anak terlambat bicara yang bisa membaik dengan sendirinya. Kalaupun tidak, terapi sejak dini akan sangat membantu mengoptimalkan perkembangannya.

Seorang ibu muda dilanda kecemasan karena putri bungsunya yang telah berusia 15 bulan belum dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia takut si anak benar-benar mengalami tunawicara. Ketika si kecil berusia lebih 2 tahun, dokter menemukan adanya autisme.

Penyebab keterlambatan bicara menurut dr Widodo Judarwanto, Sp A(K) sangatlah banyak dan bervariasi. Gangguan tersebut ada yang ringan, ada pula yang berat. Ada yang membaik setelah usia tertentu, ada juga yang tak menampakkan kemajuan.

Keterlambatan bicara bisa terjadi akibat gangguan proses pendengaran, gangguan penerus impuls ke otak, otak, otot, atau organ pembuat suara. Menurut dokter dari klinik kesulitan makan pada anak, Picky Eaters Clinic itu, ada tiga penyebab utama keterlambatan bicara, yaitu retardasi mental, gangguan pendengaran, dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi juga disebut keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik.

Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutisme selektif, afasia reseptif, dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan oleh lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, teknik pengajaran yang salah, dan sikap orangtua.

Makin dini keterlambatan bicara terdeteksi, makin besar kemungkinan pemulihannya. Bila keterlambatan bicara bersifat nonfungsional, maka stimulasi dan intervensi harus cepat dilakukan.

Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak. Kegiatan deteksi dini melibatkan orangtua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan, dan dokter anak. Deteksi dini ini mampu mengungkapkan apakah keterlambatan bicara itu berjenis fungsional atau nonfungsional.

Fungsional terbanyak
Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami anak. Keterlambatan bicara yang juga diistilahkan sebagai keterlambatan perkembangan bahasa ini disebabkan oleh terlambatnya kematangan proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara.

Gangguan ini sering dialami anak laki-laki yang memiliki riwayat keterlambatan bicara dalam keluarga. Kondisi ini cukup ringan dan bisa membaik.

Pada umumnya, gangguan kemampuan bicara akan membaik setelah sang anak memasuki usia 2 tahun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bicara penderita keterlambatan jenis ini sudah mulai normal saat memasuki usia sekolah.

Dalam kondisi ini, fungsi reseptif biasanya sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motornya normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresifnya.

Ciri khas lainnya, menurut dr Widodo, adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan, dan gangguan psikologis. Keterlambatan bicara fungsional sering dialami anak dengan gangguan alergi, terutama pada kulit dan saluran cerna.

Gangguan saluran cerna berupa gejala berulang dari perut kembung, sering buang angin, muntah, dan sulit buang air besar (BAB). Kesulitan BAB ditandai oleh BAB ngeden; tidak setiap hari; kotoran berbau, hitam atau hijau tua, keras, dan bulat seperti kotoran kambing; ada riwayat berak darah; serta lidah tampak kotor, berwarna putih, air liur bertambah banyak, atau mulut berbau.

Gangguan kulit biasa muncul dalam bentuk bintik-bintik kemerahan, seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, dan kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Hal itu sering pula disertai gangguan tidur malam, gelisah, mengigau, tertawa atau menangis saat tidur, sering terbangun, gigi gemeretak, dan sebagainya.

Tanpa penanganan khusus
Keterlambatan bicara fungsional biasanya tidak memerlukan penanganan khusus karena akan membaik setelah usia 2 tahun. Meskipun penyebabnya bukan karena kurang stimulasi, keadaan ini memerlukan stimulasi yang lebih dibandingkan anak normal. Stimulasi ini tidak harus melalui terapi bicara. Namun, bila mampu menjalani terapi bicara, maka hal itu juga tidak merugikan.

Anak tanpa gangguan bicara dan bahasa juga perlu menerima stimulasi kemampuan bicara dan bahasa sejak lahir. Bahkan, stimulasi bisa dilakukan sejak anak dalam kandungan. Dengan stimulasi dini, kemampuan bicara dan bahasanya diharapkan lebih optimal sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasinya.

Pada keterlambatan bicara nonfungsional, stimulasi dan intervensi sejak dini secara khusus oleh tenaga profesional sesuai penyebabnya harus dilakukan. Semakin dini upaya tersebut, hal itu akan meningkatkan keberhasilan penanganan. Gangguan jenis ini perlu pendekatan multidisiplin ilmu, yang melibatkan antara lain dokter ahli tumbuh kembang anak, neurologi anak, gastroenterologi anak, alergi anak, psikologi anak, psikiater anak, rehabilitasi medik, serta mereka yang bergerak di bidang klinis atau praktisi lain yang berkaitan. (kompas.com)