Risiko Berhubungan Intim Saat Hamil


Secara umum, berhubungan seks selama masa kehamilan tidak membahayakan janin. Namun dalam kondisi tertentu, wanita hamil dianjurkan untuk puasa bercinta karena bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan.

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Canadian Medical Association Journal mengungkap bahwa tidak ada cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa hubungan seks saat hamil bisa memberikan dampak negatif. Seks tidak dilarang selama tidak memiliki kelainan tertentu.

“Risiko dan kontraindikasi dari hubungan seks saat hamil sangat sedikit, sehingga tidak alasan untuk membatasinya,” ungkap salah satu peneliti, Dr Clair Jones dari University of Toronto.

Meski jarang, beberapa jenis gangguan kehamilan bisa saja terjadi pada beberapa wanita yang punya risiko tinggi. Pada kelompok ini, hubungan seks memang sebaiknya dibatasi selama hamil dan beberapa hari setelah bersalin karena bisa memicu dampak serius yang membahayakan janin.

Dikutip dari Livescience, Rabu (2/2/2011), berikut ini adalah beberapa dampak negatif dari hubungan seks selama kehamilan pada wanita dengan risiko tinggi.

1. Kelahiran prematur

Wanita yang hamil anak kembar atau punya risiko tinggi untuk melahirkan secara prematur dianjurkan tidak berhubungan seks. Meski tidak banyak penelitian yang membuktikan bahwa hubungan seks saat hamil bisa memicu kelahiran prematur, beberapa dokter menganjurkan wanita yang pernah melahirkan secara prematur untuk puasa seks demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

2. Penyakit Radang Panggul (Pelvic Inflammatory Disease)

Penyakit radang panggul dipicu oleh infeksi seksual menular termasuk chlamydia. Selain menyerang organ reproduksi seperti indung telur dan saluran telur, infeksi ini bisa terus menjalar hingga menulari janin. Oleh karena itu, dianjurkan untuk memakai kondom saat melakukan hubungan seks yang berisiko terutama saat hamil.

3. Perdarahan tali pusar

Hubungan seks sebaiknya dihindari pada wanita hamil yang memiliki placenta previa atau tali pusar yang melintas di leher rahim. Dikhawatirkan, jari, penis atau benda apapun termasuk sex-toy bisa melukai plasenta dan memicu perdarahan yang membahayakan janin.

4. Penyumbatan vena oleh udara (venous air embolism)

Embolisme atau penyumbatan vena oleh udara akibat hubungan seks jarang terjadi, namun bisa memicu sedikitnya 18 kematian ibu dan janin di antara 20 juta kehamilan. Jika melakukan seks oral saat hamil, pastikan agar pasangan tidak meniupkan udara ke dalam vagina karena berisiko menyebabkan udara masuk ke vena dan menyumbat aliran darah ke janin.

Perempuan Takut ML Saat Hamil


inmagine.com

Perempuan cenderung melakukan seks lebih sedikit disaat hamil. Ini disebabkan karena beberapa ketakutan terkait janin dan menurunnya citra diri, sehingga perlu dimengerti oleh setiap pasangannya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Portugal terhadap 188 wanita berusia 17 sampai 40, diketahui bahwa hampir setengah (44,7 persen) dari wanita melakukan hubungan seksual paling sering di trimester pertama dan sepertiganya (35,6 persen) mengatakan paling sering di trimester kedua.

Sedangkan di trimester ketiga, hanya sepuluh persen yang mengatakan sering melakukan hubungan seks. Dan lebih dari setengahnya mengaku mengalami penurunan hasrat pada periode ini.

Divisi kebidanan umum & ginekologi University Hospitals Case Medical Center di Cleveland Dr. Marjorie Greenfield, dalam bukunya The Working Woman’s Pregnancy mengatakan bahwa menurunnya akivitas seksual selama kehamilan disebabkan oleh ketakutan. Bahkan sebagian besar ketakutan tersebut datang dari pihak laki-laki.

“Hanya seperempat (23,4 persen) dari wanita mengaku takut seks dapat menyakiti bayi,” ujarnya.

Wanita terkadang merasa tidak akan apa-apa saat berhubungan seks, tetapi suaminya merasa tidak nyaman dengan ide tersebut. Beberapa pria mengatakan mereka merasa si jabang bayi akan menonton aktivitas tersebut dan merasa tersakiti.

Selain itu, 40 persen wanita menganggap dirinya kurang menarik ketika mereka sedang hamil.

Di sisi lain, setengah dari peserta survei mengatakan kepuasan seksual yang mereka dapatkan selama kehamilan akan tetap sama seperti sebelum hamil. Mereka juga tidak merasakan penurunan minat seksual terhadap pasangan.

“Secara umum, masih banyak wanita menganggap seks selama kehamilan bisa mengakibatkan aborsi, padahal seks selama kehamilan tidaklah berbahaya,” tuturnya.

Greenfield menjelaskan ada beberapa kondisi selama kehamilan yang membuat seks itu tidak aman seperti wanita dengan gejala plasenta previa. Ini terjadi bila plasenta terletak lebih rendah di dalam rahim.

“Mengenai plasenta selama berhubungan seks dapat menyebabkan sang ibu mengalami pendarahan,” lanjutnya.

Meniupkan udara ke dalam vagina juga suatu yang tidak aman saat melakukan oral seks sehingga perlu berhati-hati.

“Tapi dibalik semua itu, penting bagi setiap pasangan memahami bahwa keinginan dan citra diri akibat perubahan hormonal dan kelelahan sangat mempengaruhi hasrat dan fungsi seksual wanita,” ungkapnya.