Gallery

Ruam Berbahaya pada Bayi


 

 

Kemerahan atau ruam pada kulit bayi atau anak-anak sering terjadi. Ruam biasanya disertai rasa gatal, tetapi ada juga yang tidak disertai rasa gatal. Buah hati sering mengalami ruam karena kulitnya cenderung sangat sensitif.

Penyebab ruam bisa bermacam-macam antara lain reaksi alergi, virus, bakteri, digigit serangga, susu, dan lembab pada popok. Jika memang ruam tidak membuat buah hati merasa gatal dan rewel, Anda bisa mengatasinya sendiri di rumah. Yaitu, dengan membersihkannya bagian yang terkena ruam secara teratur dan selalu dijaga kebersihannya. Ruam sebenarnya akan hilang dengan sendirinya.

Meskipun ruam bukan masalah serius, tetapi ada beberapa kondisi di mana ruam pada anak harus segera diperiksakan ke dokter. Menurut American Academy of Family Physicians, ada enam kondisi, yaitu :

- Ruam pada bayi yang berumur kurang dari enam minggu

- Terdapat jerawat atau luka pada ruam

- Ruam disertai dengan demam, atau terdapat benjolan besar

- Saat ruam muncul diikuti penurunan berat badan

- Ruam yang disebabkan popok lembab menyebar di area lain seperti kulit kepala, wajah atau lengan.

- Ruam tidak kunjung hilang atau berkurang setelah seminggu (VIVAnews)

 

Gallery

Anak Terlambat Bicara, Bisa Jadi Kelainan Genetik


inmagine.com

Bila anak terlambat bicara, orangtua layak bingung. Namun, jangan lalai untuk segera mencari terapi. Memang ada anak terlambat bicara yang bisa membaik dengan sendirinya. Kalaupun tidak, terapi sejak dini akan sangat membantu mengoptimalkan perkembangannya.

Seorang ibu muda dilanda kecemasan karena putri bungsunya yang telah berusia 15 bulan belum dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia takut si anak benar-benar mengalami tunawicara. Ketika si kecil berusia lebih 2 tahun, dokter menemukan adanya autisme.

Penyebab keterlambatan bicara menurut dr Widodo Judarwanto, Sp A(K) sangatlah banyak dan bervariasi. Gangguan tersebut ada yang ringan, ada pula yang berat. Ada yang membaik setelah usia tertentu, ada juga yang tak menampakkan kemajuan.

Keterlambatan bicara bisa terjadi akibat gangguan proses pendengaran, gangguan penerus impuls ke otak, otak, otot, atau organ pembuat suara. Menurut dokter dari klinik kesulitan makan pada anak, Picky Eaters Clinic itu, ada tiga penyebab utama keterlambatan bicara, yaitu retardasi mental, gangguan pendengaran, dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi juga disebut keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik.

Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutisme selektif, afasia reseptif, dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan oleh lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, teknik pengajaran yang salah, dan sikap orangtua.

Makin dini keterlambatan bicara terdeteksi, makin besar kemungkinan pemulihannya. Bila keterlambatan bicara bersifat nonfungsional, maka stimulasi dan intervensi harus cepat dilakukan.

Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak. Kegiatan deteksi dini melibatkan orangtua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan, dan dokter anak. Deteksi dini ini mampu mengungkapkan apakah keterlambatan bicara itu berjenis fungsional atau nonfungsional.

Fungsional terbanyak
Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami anak. Keterlambatan bicara yang juga diistilahkan sebagai keterlambatan perkembangan bahasa ini disebabkan oleh terlambatnya kematangan proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara.

Gangguan ini sering dialami anak laki-laki yang memiliki riwayat keterlambatan bicara dalam keluarga. Kondisi ini cukup ringan dan bisa membaik.

Pada umumnya, gangguan kemampuan bicara akan membaik setelah sang anak memasuki usia 2 tahun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bicara penderita keterlambatan jenis ini sudah mulai normal saat memasuki usia sekolah.

Dalam kondisi ini, fungsi reseptif biasanya sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motornya normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresifnya.

Ciri khas lainnya, menurut dr Widodo, adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan, dan gangguan psikologis. Keterlambatan bicara fungsional sering dialami anak dengan gangguan alergi, terutama pada kulit dan saluran cerna.

Gangguan saluran cerna berupa gejala berulang dari perut kembung, sering buang angin, muntah, dan sulit buang air besar (BAB). Kesulitan BAB ditandai oleh BAB ngeden; tidak setiap hari; kotoran berbau, hitam atau hijau tua, keras, dan bulat seperti kotoran kambing; ada riwayat berak darah; serta lidah tampak kotor, berwarna putih, air liur bertambah banyak, atau mulut berbau.

Gangguan kulit biasa muncul dalam bentuk bintik-bintik kemerahan, seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, dan kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Hal itu sering pula disertai gangguan tidur malam, gelisah, mengigau, tertawa atau menangis saat tidur, sering terbangun, gigi gemeretak, dan sebagainya.

Tanpa penanganan khusus
Keterlambatan bicara fungsional biasanya tidak memerlukan penanganan khusus karena akan membaik setelah usia 2 tahun. Meskipun penyebabnya bukan karena kurang stimulasi, keadaan ini memerlukan stimulasi yang lebih dibandingkan anak normal. Stimulasi ini tidak harus melalui terapi bicara. Namun, bila mampu menjalani terapi bicara, maka hal itu juga tidak merugikan.

Anak tanpa gangguan bicara dan bahasa juga perlu menerima stimulasi kemampuan bicara dan bahasa sejak lahir. Bahkan, stimulasi bisa dilakukan sejak anak dalam kandungan. Dengan stimulasi dini, kemampuan bicara dan bahasanya diharapkan lebih optimal sehingga dapat meningkatkan kualitas komunikasinya.

Pada keterlambatan bicara nonfungsional, stimulasi dan intervensi sejak dini secara khusus oleh tenaga profesional sesuai penyebabnya harus dilakukan. Semakin dini upaya tersebut, hal itu akan meningkatkan keberhasilan penanganan. Gangguan jenis ini perlu pendekatan multidisiplin ilmu, yang melibatkan antara lain dokter ahli tumbuh kembang anak, neurologi anak, gastroenterologi anak, alergi anak, psikologi anak, psikiater anak, rehabilitasi medik, serta mereka yang bergerak di bidang klinis atau praktisi lain yang berkaitan. (kompas.com)

Gallery

Penyebab Anak Ingusan


inmagine.com

Hidung ingusan atau “meler” adalah hal yang umum di kalangan anak-anak. Ada beberapa sebab mengapa hidung anak ingusan:

1. Pilek

Infeksi virus yang biasanya berlangsung sampai dua minggu ini dapat menyerang anak-anak dua atau tiga kali setahun. Ketika virus pilek menyerang saluran pernafasan atas anak, jaringan yang melindungi hidung mengeluarkan ingus untuk mendorong virus keluar dari hidung.

2. Infeksi sinus

Infeksi sinus terjadi ketika bakteri atau virus menyerang satu atau lebih dari empat rongga sinus dalam tengkorak. Karena rongga terbuka di dalam lubang hidung, hidung akan memproduksi lendir seperti pada pilek. Jika ingusan berlangsung selama dua minggu tanpa perbaikan, berwarna kehijauan dan diikuti demam tinggi, maka kemungkinan ingusan disebabkan infeksi sinus.

3. Reaksi alergi

Hidung meler pada anak juga dapat merupakan reaksi alergi, di mana jaringan hidung mengeluarkan lendir sebagai respon imunologi terhadap partikel antigen dari tanaman, debu, serbuk sari atau zat lain seperti bulu kucing. Jika Anda memiliki anak dengan hidung meler disertai bersin-bersin dan hidung gatal, ingus tidak berubah warna, tanpa demam atau tanda-tanda infeksi, maka kemungkinan besar disebabkan alergi. Ingusan sebagai reaksi alergi bisa muncul secara musiman, misalnya di musim kemarau ketika banyak debu dan serbuk sari beterbangan, bisa juga tidak mengenal musim, misalnya karena alergi bulu binatang atau tungau.

Apakah berbahaya?

Ingusan biasanya bukan merupakan ancaman kesehatan yang perlu dikhawatirkan.  Namun,  ingusan juga dapat mengisyaratkan masalah yang lebih serius jika disertai gejala lainnya. Anda harus berkonsultasi dengan dokter jika:

  • ingusan berlangsung lebih dari dua minggu (infeksi sinus atau alergi)
  • ingusan disertai demam tinggi (tanda-tanda infeksi saluran pernafasan atas),
  • anak mengalami sesak nafas dan terengah-engah (gejalaasma)
  • anak merasakan tekanan berat atau nyeri di daerah wajah.

Pengobatan

  • Ingusan dengan lendir bening cerah disebabkan oleh infeksi virus dan biasanya hanya berlangsung singkat. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengobatinya kecuali membiarkan sistem kekebalan tubuh bekerja melawan virus.
  • Ingusan karena alergi, Anda harus menyingkirkan atau menjauhkan anak dari sumber alergi (alergen).
  • Ingusan berwarna kehijauan karena infeksi sinus harus diterapi dengan antibiotik. Anda harus mendapatkan antibiotik dari resep dokter.
  • Obat pelega hidung (dekongestan) dapat membantu mengurangi ingusan, tetapi dapat memperparah infeksi sinus. Konsultasikan kepada dokter bila Anda akan memberikan dekongestan minum kepada anak.
  • Dekongestan topikal (tetes hidung dan semprotan) membuat anak merasa lebih nyaman namun dapat membuat ketagihan sehingga anak tidak dapat bernapas dengan baik tanpa menggunakannya. Jangan menggunakan dekongestan topikal untuk anak di bawah 12 tahun dan jangan menggunakannya lebih dari tiga hari pada satu waktu.
Gallery

Masalah Pada Kulit Kepala Bayi dan Solusinya


inmagine.com

Ketombe tidak hanya menyerang orang dewasa. Anak-anak juga bisa terserang ketombe. Sedikit berbeda, ketombe pada bayi bukan berupa sisik putih, melainkan lebih mirip kerak. Tak heran, jika orang lebih mengenalnya dengan sebutan kerak kepala atau kerak topi (cradle cap).

Adapun kebanyakan orang Jawa lebih sering menyebutnya dengan nama sawan. Kerak ini biasa muncul saat bayi berumur kurang dari tiga buIan.

Eddy Karta, dokter spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, menjelaskan, sawan terjadi karena masih tertinggalnya hormon androgen di tubuh si kecil. Hormon ini berasal dari plasenta ketika bayi masih di rahim.

Androgen ini yang memicu terjadinya disfungsi atau gangguan fungsi kelenjar minyak (sebum) pada kepala bayi. Cradle cap biasanya didahului dengan sisik-sisik putih pada kulit kepala bayi. Karena sering terkena udara luar, sisik putih itu bisa menebal dan jadi kerak. “Tapi, seiring menurunnya kandungan androgen, kerak menipis dan berangsur mengelupas sendiri,” kata Eddy.

Meski bisa hilang sendiri, bukan berarti Anda boleh membiarkan begitu saja. Karena kulit bayi sangat sensitif, kehadiran kerak bisa membuatnya gatal dan berujung ketidaknyamanan. Apalagi, jika dibiarkan terus, kerak pada bayi ini juga bisa mengganggu pertumbuhan rambut.

Untuk membersihkan ketombe pada bayi, para dokter tidak menyarankan Anda menggunakan sampo antiketombe bagi orang dewasa. “Gunakan produk untuk bayi dan sapukan sampo bayi dengan lembut menggunakan washlap,” terang Eddy.

Jangan juga memaksa mencabut kerak dari kepala bayi karena dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya. Agar lebih mudah dibersihkan, Anda bisa mengoleskan baby oil agar kerak yang menempel pada kulit kepala mudah dibersihkan ketika bersampo.

Mengapa kondisi rambut dapat menjadi cerminan kondisi kesehatan secara keseluruhan? Jawabannya karena kondisi rambut ditentukan oleh berbagai fakor, seperti asupan gizi, kondisi kesehatan, sampai faktor keturunan. Nah, bagaimana kalau rambut anak Anda seperti ini?

TIPIS

Tak perlu khawatir jika rambut si kecil tergolong tipis. Selama ia sehat, tak ada masalah kok. Menggunduli rambut bayi hanyalah tradisi. Dari sisi medis, tak ada kaitan antara mencukur rambut dengan kondisi rambut selanjutnya. Yang menentukan tipis tebalnya rambut adalah empat faktor berikut:

- Genetik. Kalau orangtua dan kakek-neneknya berambut tipis, digunduli 100 kali pun tetap saja si anak berambut tipis. Begitu juga sebaliknya.

- Gizi. Asupan gizi yang cukup jelas akan memengaruhi tekstur rambut. Mereka yang asupan gizi-nya kurang biasanya rambutnya lebih tipis, kering, gampang patah dan rontok, serta cenderung berwarna kemerah-merahan.

- Hormon. Salah satunya hormon androgen yang terdapat dalam tubuh ibu selagi hamil. Bisa dipahami mengapa rambut bayi yang baru lahir biasanya sangat lebat. Namun, karena bayi belum bisa memproduksi hormon androgen sendiri, lama-kelamaan efek androgen yang terbawa dari ibunya hilang. Rambut si kecil pun akan rontok, berganti dengan rambut aslinya yang mungkin lebih tipis.

- Lingkungan ternyata juga punya andil. Banyak terpapar sinar matahari dan polusi udara akan membuat rambut kusut, kusam dan gampang patah/rontok.

- Penyakit. Antara lain seboroik yang menyebabkan munculnya ketombe. Rambut kotor oleh serpihan kerak kulit kepala rontok dan tipis.

TIDAK TUMBUH

Penyebabnya diduga akibat kelainan genetik. Atau sangat mungkin selagi hamil ibu mengalami gangguan serius, seperti terkena paparan radiasi, bahan kimia, atau radioaktif. Akibatnya, sejak lahir bayi tak memiliki rambut, bahkan tidak tumbuh-tumbuh seiring pertambahan umurnya. Untungnya, kasus ini sangat jarang terjadi.

RONTOK

Sebetulnya rambut tumbuh setiap hari sehingga masih tergolong wajar dan bisa ditoleransi bila kerontokannya tidak lebih dari 100 helai setiap hari dan berlangsung tidak lebih dari 3 bulan lamanya. Di luar itu, kerontokan yang tidak merata alias hanya di tempat-tempat tertentu, tak ada jalan lain kecuali segera bawa ke dokter. Kerontokan tak wajar ini biasanya terjadi pada anak selepas balita ketika tubuhnya menghasilkan antibodi yang berkemungkinan merusak akar rambut sehingga rambut tidak tumbuh (Alofecia totalis). Penyakit bawaan ini tak hanya membuat rambutnya rontok di seluruh kepala, tapi juga alis dan bulu mata. Namun jika cepat tertangani, gangguan ini bisa diatasi.

KETOMBE

Kata ini tidak asing lagi di telinga kita. Penyebabnya adalah eksim atau keringat yang berlebih. Eksim pada kulit kepala bisa tumbuh subur jika rambut dan kulit kepala tergolong berminyak. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh stres, kebiasaan makan yang tidak teratur, dan kurang tidur. Mengatasinya? Keramas setiap kali terkena keringat berlebih. Gunakan sampo untuk rambut berketombe yang cocok. Bila keluhan tergolong parah; gatal luar biasa atau kulit kepala sudah dipenuhi eksim atau jamur, tak ada cara lain kecuali konsultasikan dengan dokter spesialis kulit.

BERCABANG

Penyebabnya bisa karena faktor internal berupa asupan gizi yang kurang, kekacauan produksi hormon, atau menderita penyakit tertentu.

Mengatasinya tentu disesuaikan dengan akar penyebabnya. Penuhi kebutuhan anak dengan prinsip gizi seimbang, cukup dan beragam. Barengi dengan pengobatan terhadap penyakit yang sedang diidap. Sedangkan faktor eksternal yang menjadi penyebab antara lain polusi udara, lingkungan yang kurang sehat, sering terpapar teriknya sinar matahari, tindakan manipulatif terhadap rambut seperti penggunaan hair dryer, pengeritingan, pengecatan, pelurusan maupun penggunaan bahan-bahan kimia lain secara tidak tepat atau berlebihan pada rambut. Untuk mengurangi keluhan ini, perbaiki sanitasi lingkungan, pakailah payung atau topi sebagai pelindung kepala saat harus berada di bawah terik matahari, dan minimalkan penggunaan bahan-bahan kimiawi serta tindakan manipulatif pada rambut. Contohnya, daripada mengeringkan rambut dengan hair dryer, lebih baik angin-anginkan sebentar secara alami.

BERKUTU

Sebersih apa pun kondisi rambut anak di rumah, begitu ia ke luar rumah, terbuka kesempatan baginya untuk tertular kutu rambut. Menghindarinya? Jangan malas menyisirnya dan rajin-rajinlah mengecek kondisi rambutnya. Jika kedapatan kutu, gunakan obat antikutu rambut yang aman bagi kulitnya. Kemudian selubungi rambutnya dengan handuk selama beberapa jam atau semalaman. Menyisirinya dengan sisir khusus, membersihkan rambutnya helai demi helai dari telur dan kutu rambut adalah langkah terbaik. Rajin-rajinlah membersihkan seprai, sarung bantal dan benda-benda lain memungkinkan kutu rambut bertahan hidup.

BERJAMUR

Menurut hasil penelitian Boni E. Elewski, MD, seorang profesor dermatologi di Universitas Alabama Birmingham, ada sejenis jamur yang kerap menyerang kepala anak-anak, yakni T. tonsurans.

Jamur ini bisa mengakibatkan infeksi ringworm yang menimbulkan rasa gatal pada kulit kepala. Ironisnya, anak-anak di kota besar lebih rentan terkena infeksi ini. Terutama bila kondisi lingkungannya kurang bersih. Apalagi cara penularannya relatif sangat mudah, bisa dari binatang peliharaan yang terinfeksi, maupun penggunaan bersama sisir/sikat rambut, topi, dan media di kepala lainnya, seperti bando, jepit, dan helm.

Infeksi oleh ringworm, gejalanya antara lain berupa ruam, bercak merah berbentuk cincin atau uang logam di sekitar perut, leher, paha, dan punggung yang bagian pinggirnya terasa kasar namun halus di bagian tengahnya. Bila mengenai kulit kepala, akan muncul sisik yang mirip dengan ketombe. Agak sulit membedakannya dengan ketombe karena secara kasat mata gejalanya sangat mirip. Hanya saja kadang kala, infeksi ringworm membuat kulit kepala mengeras akibat adanya sisik yang berlapis-lapis. Meski tidak berbahaya, bila dibiarkan infeksi ini akan berdampak buruk pada kondisi rambut anak. Kerontokan rambut semakin hebat dan akhirnya memunculkan terjadinya kebotakan permanen.

Menghindarinya? Biasakan tiap anggota keluarga menggunakan peralatan kecantikan sendiri-sendiri, termasuk sisir, topi, bandana, bando, pita, bahkan ikat rambut. Secara berkala cucilah sisir menggunakan sampo dan air hangat.

Jamur lain yang juga menyebabkan infeksi adalah jamur penyebab kurap Tinea capitis. Gejalanya berupa kulit kemerahan, bersisik dan terjadi penebalan/pembengkakan yang disertai rasa gatal yang amat mengganggu. Gangguan jamur ini dibedakan menjadi 3, yaitu black dot (bentuknya seperti pitak namun masih terdapat tunggul rambut), graypatch (rambut rontok sendiri tanpa ada tunggul rambut) dan kerion celsi. Kedua gangguan pertama masih bisa diatasi dengan sampo khusus dan obat antijamur. Sedangkan yang terakhir adalah gangguan yang paling parah yang menimbulkan nyeri dan gatal hebat. Kulit kepala penderita akan dipenuhi bisul dan koreng sehingga gangguan ini akrab disebut sarang tawon. Jika tak diatasi, infeksi jamur kerion bisa menyebabkan pitak permanen. Pengobatannya tidak cukup hanya dengan antijamur, tapi juga antibiotik.

UBAN

Yakni berubahnya warna rambut dari warna rambut secara keseluruhan. Ada yang disebut heterokromia, yakni sekelompok rambut yang berbeda warna dari kelompok rambut lainnya.

Contohnya, warna rambut di alis ataupun kumis dan jenggot pada kelompok berumur yang sedikit berbeda dari warna rambut di kepala. Ada juga yang berbeda warna rambutnya antara lokasi yang satu dari lainnya yang kemungkinan disebabkan oleh gangguan persarafan kulit. Pada kelainan yang dikenal sebagai Somatic mozaic ini akan dijumpai rambut berwarna putih sejumput-sejumput di lokasi tertentu.

Penyebab lainnya adalah kelainan genetik berupa albino yang biasanya bersifat parsial. Misalnya sejumput rambut di bagian depan kepala atau white forelock. Ada juga kelainan yang disebut poliosis akibat vitiligo, atau berhentinya pembentukan pigmen rambut. Akibatnya, kulit akan berwarna belang-belang putih dan rambut di bagian kulit tersebut juga berwarna putih.

Bila si kecil beruban, biasanya tim dokter akan mencari kaitannya dengan masalah endokrin/hormonal maupun masalah metabolisme. Bukan tidak mungkin kondisi ini terkait dengan penyakit lain, seperti kelainan saraf. Bisa jadi sebelumnya anak menderita penyakit tertentu dan begitu sembuh, muncullah uban tersebut.

Gangguan yang bersifat genetik biasanya tak bisa diapa-apakan. Jangan pernah mengecatnya karena dikhawatirkan malah berdampak buruk. Selain itu, lindungi tubuh anak, khususnya mata dari paparan sinar matahari secara langsung karena iris mata anak seperti ini tak memiliki pigmen sehingga tak terlindungi.

Bila penyebabnya adalah kondisi kurang gizi, tentu bisa diperbaiki dengan pemberian nutrisi yang baik. Tanpa asupan nutrisi yang cukup, lama-lama bukan cuma uban, tapi rambut pun tidak tumbuh.(suaramedia)

Gallery

Strategi Hadapi Anak ‘Picky Eater’


 

 

Sebagian besar orang tua khususnya para ibu mungkin pernah mengalami saat-saat sulit dimana anak mereka tak mau makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kesulitan makan pada balita atau biasa disebut picky eater merupakan hal yang lazim terjadi ketika anak mulai beralih mengonsumsi makan makanan cair ke padat.

Menurut dr. Vimaladewi Lukito Sp.A, spesialis anak dari Tirtayu Healing Center, picky eater adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah 6 tahun.

Untuk menghadapi anak yang picky eater, hal terpenting yang harus dilakukan khususnya para orang tua adalah pendekatan dalam cara memberikan makanan kepada anak.

“Itu yang harus disadari oleh orang tua. Orang tua harus tahu kenapa anaknya picky eater dan tidak mau makan makanan padat,” katanya, Sabtu, (6/8/2011), di Jakarta.

Seorang ibu, kata Vimaladewi, harus mengerti bahwa setelah anak berumur di atas 1 tahun, susu bukan lagi menjadi sumber kalori utama. Sehingga anak harus beralih ke makan makanan yang padat.

Menurutnya, ketika anak mulai belajar makan makanan padat, anak akan sering meludahkan atau melepehkan makanan. Pada saat seperti inilah para orang tua biasanya akan berpikir bahwa anak tidak suka. “Padahal reaksi seperti itu bukan berarti anak tidak suka. Anak sedang mulai belajar persepsi, merasakan jenis konsistensi makan yang baru,” ujarnya.

Dalam menghadapi anak picky eater yang diperlukan adalah kesabaran dari orang tua dalam memberikan anak makan. Jangan menargetkan atau memaksa anak Anda untuk menghabiskan makanan jika memang anak sudah tidak lagi mau makan. Orang tua sebaiknya melakukan secara bertahap, dan lakukan pengenalan satu rasa makanan yang sama pada anak.

Jangan pernah membuat anak bingung dalam mengenali apa yang dia makan. Misalnya, ketika sarapan pagi diberi rasa buah-buahan, siang rasa daging, setelah itu sayur-sayuran. “Kenali satu rasa dulu. Lakukan selama seminggu berturut-turut seperti itu. Setelah anak sudah bisa menerima rasa itu, baru cobalah kenalkan dengan rasa yang lain,” jelasnya.

Vimaladewi mengatakan, kalau picky eater tidak segera ditangani sejak awal, maka anak akan menjadi sulit makan ke depannya. Sehingga bukan tidak mungkin anak akan mengalami kekurangan gizi. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami picky eater, misalnya saja: bentuk makanan tidak menarik, monoton (tidak ada variasi), suasana di rumah tidak kondusif dan kurang perhatian orang tua (sibuk).

Faktor psikologis memiliki peran penting pada anak picky eater. Oleh karena itu, butuh team work dalam seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, orangtua dan pengasuh, dengan satu tujuan supaya anak tidak picky eater.

“Ketika kita mengajarkannya sambil main dan dalam keadaan yang senang, dia menganggap itu sebagai pola yang menyenangkan. Atau anak melihat orang tuanya sendiri ikut makan, itu akan membuat anak lebih gampang untuk makan-makanan padat,” tandasnya.

Vimaladewi mengingatkan, apa yang dimakan anak harus sama dengan apa yang di makan oleh keluarga. Misalnya, kalau anak disuruh makan sayur-sayuran, tapi orang tuanya tidak pernah mencontohkan makan sayuran, makan anak tidak akan pernah mau makan sayuran, begitu pula sebaliknya.(kompas.com)

 

Gallery

Apakah Bayi Bisa Alergi ASI ?


 

inmagine.com

 

Barangkali Anda pernah mendengar rekan-rekan mengatakan jika buah hatinya mengalami alergi ASI. Memang sebagian masyarakat Kita percaya pada alergi ASI ini. Hal ini juga mungkin menimbulkan ketakutan bagi Anda. Apalagi sebagai rasa sayang Kita terhadap buah hati membuat Kita ingin selalu memberikan ASI ekslusif. Namun apakah benar ASI Ibu ini dapat menyebabkan alergi?

Bayi bisa terkena alergi setelah mengkonsumsi ASI. Apalagi ASI adalah nutrisi satu-satu nya yang diterima bayi untuk pertama sekali hingga usia yang pantas menerima makanan cair. Bayi bisa saja mengalami tanda-tanda aneh setelah diberikan ASI. Namun jika keadaannya seperti ini yang harus Kita permasalahkan bukanlah si bayi, namun makanan yang telah dikonsumsi oleh si Ibu sehingga menyebabkan si bayi menjadi bermasalah setelah diberi ASI. Karena itulah sebagai Ibu Kita harus mencari tahu apa sebenarnya makanan yang menjadi alergen (penyebab alergi) bagi si bayi. Jika penyebab alergi ini sudah diketahui si Ibu bisa menghentikan konsumsi makanan dari jenis tersebut atau minimal mengurangi komsumsinya.

Lantas tanda apa saja yang dapat Kita ketahui jika bayi mengalami alergi setelah mengkonsumsi ASI Ibu? Nah, hal ini bisa ditandai dengan terjadinya gumoh (seperti muntah) yang terjadi secara spontan. Namun terdapat perbedaan antara gumoh dengan muntah, dimana gumoh biasanya hanya sedikit cairan yang dikeluarkan serta tidak disertai kontraksi otot perut. Gumoh ini dikatakan normal jika frekuensinya 1-4 kali sehari.

Namun jika si bayi mengalami gumoh lebih dari frekuensi normal, Anda harus waspada dan memeriksakan karena bisa jadi si bayi mengalami alergi susu. Selain itu jika gumoh ini tidak ditangani dengan baik, dikhawatirkan ketika gumoh ada air susu yang justru malah masuk ke lambung. Di dalam lambung terdapat asam lambung sehingga jika air susu tercampur dengan asam lambung dan masuk ke paru-paru akan menyumbat saluran nafas. Apalagi terjadi dalam frekuensi yang sering di atas 4 kali sehari.

Tanda lain dari alergi ASI ini adalah kulit bayi akan mengalami ruam dan merah. Ruam dan kulit merah ini kadang diperparah hingga kulit bayi terkelupas dan lengkat di benda lainnya. Hal ini biasanya disebabkan karena si Ibu mengkonsumsi makanan laut yang kurang sesuai dengan kondisi si bayi.

Jika keadaan alergi ASI terjadi pada bayi Anda, langkah yang seharusnya diambil bukan menghentikan pemberian ASI eksklusif namun menghentikan makanan yang dapat menyebabkan terjadinya alergi tersebut. Jika ASI eksklusif ini dihentikan dan diganti dengan pemberian susu formula justru akan semakin mengurangkan nilai gizi yang diterima oleh si bayi. Karena bagaimanapun nilai gizi yang terdapat dalam ASI Ibu tidak dapat digantikan oleh susu formula yang mahal sekalipun. Selain itu penggunaan susu formula mengakibatkan bayi enggan untuk menyusui ASI ke depannya.