Gallery

Strategi Hadapi Anak ‘Picky Eater’


 

 

Sebagian besar orang tua khususnya para ibu mungkin pernah mengalami saat-saat sulit dimana anak mereka tak mau makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kesulitan makan pada balita atau biasa disebut picky eater merupakan hal yang lazim terjadi ketika anak mulai beralih mengonsumsi makan makanan cair ke padat.

Menurut dr. Vimaladewi Lukito Sp.A, spesialis anak dari Tirtayu Healing Center, picky eater adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah 6 tahun.

Untuk menghadapi anak yang picky eater, hal terpenting yang harus dilakukan khususnya para orang tua adalah pendekatan dalam cara memberikan makanan kepada anak.

“Itu yang harus disadari oleh orang tua. Orang tua harus tahu kenapa anaknya picky eater dan tidak mau makan makanan padat,” katanya, Sabtu, (6/8/2011), di Jakarta.

Seorang ibu, kata Vimaladewi, harus mengerti bahwa setelah anak berumur di atas 1 tahun, susu bukan lagi menjadi sumber kalori utama. Sehingga anak harus beralih ke makan makanan yang padat.

Menurutnya, ketika anak mulai belajar makan makanan padat, anak akan sering meludahkan atau melepehkan makanan. Pada saat seperti inilah para orang tua biasanya akan berpikir bahwa anak tidak suka. “Padahal reaksi seperti itu bukan berarti anak tidak suka. Anak sedang mulai belajar persepsi, merasakan jenis konsistensi makan yang baru,” ujarnya.

Dalam menghadapi anak picky eater yang diperlukan adalah kesabaran dari orang tua dalam memberikan anak makan. Jangan menargetkan atau memaksa anak Anda untuk menghabiskan makanan jika memang anak sudah tidak lagi mau makan. Orang tua sebaiknya melakukan secara bertahap, dan lakukan pengenalan satu rasa makanan yang sama pada anak.

Jangan pernah membuat anak bingung dalam mengenali apa yang dia makan. Misalnya, ketika sarapan pagi diberi rasa buah-buahan, siang rasa daging, setelah itu sayur-sayuran. “Kenali satu rasa dulu. Lakukan selama seminggu berturut-turut seperti itu. Setelah anak sudah bisa menerima rasa itu, baru cobalah kenalkan dengan rasa yang lain,” jelasnya.

Vimaladewi mengatakan, kalau picky eater tidak segera ditangani sejak awal, maka anak akan menjadi sulit makan ke depannya. Sehingga bukan tidak mungkin anak akan mengalami kekurangan gizi. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami picky eater, misalnya saja: bentuk makanan tidak menarik, monoton (tidak ada variasi), suasana di rumah tidak kondusif dan kurang perhatian orang tua (sibuk).

Faktor psikologis memiliki peran penting pada anak picky eater. Oleh karena itu, butuh team work dalam seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, orangtua dan pengasuh, dengan satu tujuan supaya anak tidak picky eater.

“Ketika kita mengajarkannya sambil main dan dalam keadaan yang senang, dia menganggap itu sebagai pola yang menyenangkan. Atau anak melihat orang tuanya sendiri ikut makan, itu akan membuat anak lebih gampang untuk makan-makanan padat,” tandasnya.

Vimaladewi mengingatkan, apa yang dimakan anak harus sama dengan apa yang di makan oleh keluarga. Misalnya, kalau anak disuruh makan sayur-sayuran, tapi orang tuanya tidak pernah mencontohkan makan sayuran, makan anak tidak akan pernah mau makan sayuran, begitu pula sebaliknya.(kompas.com)

 

Gallery

Penyebab Balita Susah Makan dan Solusinya


inmagine.com

Acara memberi makan bayi jadi mengesalkan karena
belakangan ini Si Kecil malas-malasan menelan setiap
suapan. Kalau tidak disembur, ya diemut. Mengatasinya?

Menjelang genap satu tahun, Bobby punya “hobi” baru.
Si Gembul yang tadinya doyan makan dan mudah sekali
disuapi, kini sering memuntahkan setiap suapan dengan
jalan menyemburkan makanan dari dalam mulutnya. Ini
hampir tiap hari terjadi, padahal ibunya sudah
berusaha membangkitkan selera makan bayinya dengan
sajian bervariasi, lho.

“Lho, Bening anakku juga gitu. Cuma makanannya bukan
disembur,
tapi diemut. Jadi tetap saja makannya susah, dua jam
baru habis semangkuk,” keluh ibu muda lainnya, juga
baru punya satu anak bayi.

Bagi ibu yang biasanya tidak punya masalah dalam
memberi makan bayinya, saat anak punya kebiasaan baru,
menyemburkan atau mengemut makanan, tentu membuat ibu
cemas. Biasanya kehawatiran yang muncul adalah
ketakutan nutrisi bayi tidak tercukupi. Habis, makanan
susah masuknya…

Mekanisme Diet

Menurut Dr. Sri Enggar Sp. A (K) Spesialis Penyakit
dan Konsultan Masalah Anak, sesungguhnya ibu tidak
perlu terlalu khawatir menghadapi perilaku bayi
seperti Bobby atau Bening. Katanya, hampir setiap bayi
mengalami fase “sembur dan emut” seperti itu, kok.
Perilaku bayi memuntahkan atau menyemburkan makanan
bukan karena bayi kehilangan selera makan. Yang lebih
mungkin terjadi adalah bayi sedang menempatkan diri
dalam diet pemeliharaan tubuh. “Karena, jika bayi
makan seperti yang ia lakukan di usia kurang dari satu
tahun pertama hidupnya, ia akan mengalami kenaikan
berat badan dengan kecepatan sama. Jika ini terjadi,
tidak lama lagi bayi Anda
akan lebih mirip bola ketimbang bayi,” ungkap Enggar,
seraya tersenyum.

Sebagian besar bayi mengalami kenaikan Berat Badan
(BB) tiga kali
BB lahir ketika ia berusia satu tahun. Misal, jika
saat lahir bayi ber-BB empat kilogram, maka di akhir
usia setahun BB-nya mencapai duabelas kilogram (3 X 4
kilogram). Pada tahun kedua bayi hanya menambahkan
kira-kira seperempat dari berat lahirnya. Jadi, bayi
yang lahir dengan BB empat kilo, pada tahun kedua
hanya akan menambah BB-nya 1 kilogram (1/4 X 4
kilogram). Tak heran bila pertumbuhan BB bayi pada
tahun kedua lambat. “Jadi menurunnya selera makan bayi
saat ini adalah cara tubuh bayi menjamin adanya
penurunan kenaikan berat
badan,” ujar Enggar.

Nah, setiap bayi memiliki perilaku berbeda-beda dalam
fase
ini. Ada bayi yang sama sekali tak mau membuka
mulutnya saat
disuapi. Ada yang mau memasukan makanan ke dalam mulut
tetapi
memuntahkan/menyemburkanya kemudian – sebetulnya tidak
semua makanan dimuntahkan, karena pasti ada yang
masuk. Ada juga bayi yang berusaha mengurangi jatah
makannya dengan mengemut makanan lama-lama di mulut,
sampai ibu atau pengasuh bosan, sehingga bayi tidak
perlu menghabiskan seluruh isi piring, sebab
“menyerah” pada suapan kelima atau tujuh – “Yang
penting sudah banyak yang masuk,” alasan ibu.

“Semua harus dihadapi orangtua dengan sabar, dan tidak
perlu negative thinking atau sampai mencekoki bayi
makanan segala, karena kalau itu yang terjadi malah
tidak sehat karena dapat membuat bayi trauma,” saran
Enggar.

Selain faktor mekanisme diet, ada juga faktor lain
yang dapat memicu perilaku bayi tersebut. Salah
satunya adalah bertambahnya minat bayi terhadap dunia
di sekitarnya. Saat ini jadwal makan justru terasa
“sangat mengganggu” bayi, lantaran ia sebenarnya ingin
terus bergerak, bukannya duduk manis untuk makan. Ada
begitu banyak hal yang dapat dilakukan dan dapat
dilihat, sehingga jadwal makan hanyalah menyita waktu.
“Selain itu, di usia bayi menuju batita kemandirian
bayi mulai tumbuh. Ini mempengaruhi reaksinya pada
makanan yang disantapnya. Bayi yang sedang dalam
proses berkembang menjadi batita memutuskan dialah
yang menjadi tuan di meja makan, bukan orangtua atau
pengasuhnya. Karena itu bayi mulai memilih makanan
yang ingin dikonsumsi,” tutur Enggar.

Dokter yang pratik di RSCM Jakarta ini melanjutkan,
bisa saja kemarin bayi semangat manyantap bubur beras
merah, tapi hari ini menolak mati-matian memakannya.
Dalam keadaan ini sebaiknya orangtua mengikuti kemauan
bayi dulu. Pastikan saja bayi mendapat makanan
pengganti, misal, snacking bergizi dan susu. Toh,
kebiasaan ini akan berlalu juga.

Atau Memang Ada Masalah?

Jika orangtua meragukan penolakan bayi terhadap
makanan karena sebab psikologis di atas, Enggar tidak
menyalahkan, memang ada juga kemungkinan bayi
mengalami masalah atau gangguan fisik yang
mempengaruhi minat makan. “Yang paling sering terjadi
adalah karena tumbuh gigi, ” kata Enggar, terutama
saat gigi geraham bayi tumbuh menembus gusi.

Jika ini penyebabnya, kebiasaan bayi memuntahkan atau
menyembur makanan akan disertai mood mudah marah, suka
menggigit jari, mulut mengeluarkan ludah berlebihan,
kadang disertai demam. “Pertumbuhan ini memang membuat
rasa tidak enak pada bayi sehingga ia menolak makan.
Sebaiknya periksakan kondisi ini pada dokter saat
imunisasi bayi,” saran Enggar.

Bayi yang sedang tidak enak badan seperti batuk-pilek
juga bisanya melakukan aksi serupa. Sedang bila Anda
mengkhawatirkan sebab lain yang lebih serius, misal,
bayi mengalami problem susah menelan, sebaiknya
mintalah pemeriksaan pada dokter, meski Enggar
menyatakan hal ini kecil kemungkinannya, terutama jika
dulunya bayi tidak pernah berulah demikian. “Satu hal
yang saya tekankan, orangtua jangan menjadi emosi
mengahadapi ulah bayi ini. Bila Anda tetap ingin ada
makanan yang masuk ke mulut bayi lakukan trik-triknya.
Jangan melakukan pemaksaan karena hanya akan
menimbulkan problem makan yang kronis.”

Trik Tangkal Sembur

Ganti makanannya
Beberapa makanan tampak dramatis saat disemburkan dari
mulut bayi, misal, bubur, sereal, yoghurt. Tapi coba
ganti dengan makanan berbentuk irisan kasar khusus
untuk tumbuh gigi, seperti irisan wortel, pisang, ubi
rebus, atau roti. Efek “seru” saat makanan disemburkan
yang hilang, akan mengurangi setengah motivasi anak
menyemburkan makanan.

Beri kesempatan anak makan sendiri
Dengan makan sendiri anak akan terlalu sibuk untuk
menyembur dan mengemut karena tugas barunya makan
sendiri sangat menarik hatinya.

Biarkan Sendirian
Jika tidak ada “penonton” anak tidak akan mendapatkan
kepuasan dari “pertunjukannya”, dan akan merasa enggan
meakukannya. Letakkan makanan di hadapannya, dan
sibukkan diri Anda. Jika Anda mendengar suara
semburannya, jangan menoleh.

Hentikan Acara Makan
Dengan wajah dingin, beri anak peringatan tegas,
“Jangan menyemburkan makanan”. Jika ia mengulang
perbuatannya, ulangi peringatan. Jika ia mengulang
lagi hingga tiga kali, segera singkirkan makanan. Anak
akan segera mengetahui maksud Anda.

Gallery

Perlukah Bayi Minum Air Putih ?


 

 

BALTIMORE  – Bayi berusia dibawah 6 bulan sebaiknya jangan pernah diberikan air untuk diminum, begitu yang diingatkan oleh para ilmuwan dari John Hopkins childrens center di Baltimore kepada para orang tua. Dengan mengkonsumsi air terlalu banyak dapat meningkatkan kondisi yang berbahaya pada bayi, atau yang disebut sebagai intoksikasi air.

Walaupun bayi sangat kecil, mereka memiliki reflex haus atau perangsang untuk minum. Ketika mereka merasa haus dan ingin minum, cairan yang diperlukan untuk diminum adalah ASI (Air Susu Ibu) atau susu formula. Demikian yang dijelaskan oleh dr. Jennifer Anders, seorang ahli kegawatdaruratan anak dari John Hopkins childrens center.

Karena ginjal bayi belum matang, dengan memberi mereka banyak air akan menyebabkan tubuh mereka mengeluarkan natrium akibat kelebihan cairan. Kehilangan natrium dapat mempengaruhi aktifitas otak, sehingga gejala awal dari intoksikasi air adalah iritabilitas (merengek-rengek), mengantuk dan perubahan mental lainnya. Gejala lain yang dapat muncul adalah menurunnya suhu tubuh, edema atau bengkak disekitar wajah dan kejang.

Gejala awal yang muncul memang terkadang kurang jelas, sehingga orang tua baru menyadari ketika bayi mereka kejang. Namun, dengan penanganan yang cepat, gejala kejang kemungkinan tidak akan muncul.

Gejala lainnya dapat berupa rendahnya temperatur atau suhu tubuh, pembengkakan muka dan kejang-kejang. Gejala awal keracunan ini tidaklah tampak, oleh karena itu kejang-kejang mungkin gejala pertama yang harus diwaspadai orangtua.

Air sebagai minuman sebaiknya tidak diberikan bagi bayi berusia 6 bulan kebawah. Orang tua juga sebaiknya menghindari pemberian formula dengan pengenceran yang berlebihan (over-dilusi), atau minuman anak yang mengandung elektrolit.

Untuk beberapa kasus, mungkin tepat dengan pemberian air dalam jumlah kecil, misalnya keadaan konstipasi (sulit BAB) dan pada saat cuaca panas, namun sebaiknya orang tua mengkonsultasikan hal tersebut terlebih dahulu dengan dokter ahli anak, dan hanya diperbolehkan memberikan 1-2 ons air pada setiap pemberiannya.

Apabila orang tua merasa bayi mereka mengalami intoksikasi air, atau ketika bayi mereka muncul kejang, sebaiknya mereka segera memberikan perhatian secara medis.

Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan makin digalakkan di Indonesia. Namun pengertian eksklusif harus benar-benar dipahami para ibu lho! Bahkan minum air pun sebaiknya dihindari. Mengapa demikian?

Sudah menjadi standar baku bahwa bayi di bawah usia 6 bulan seharusnya hanya mendapatkan makanan dari Air Susu Ibu (ASI). Selain steril, ASI adalah makanan alami yang padat nutrisi dan tidak mungkin diimbangi oleh susu formula atau makanan buatan lainnya.(fn/kd/ok) suaramedia.com

Gallery

Zat Pewarna Makanan Sintetik Bikin Anak Hiperaktif


Selama ini beredar kabar yang menyebutkan bahwa gula bisa membuat anak menjadi hiperaktif atau tidak bisa diam. Tapi ternyata zat pewarna makanan sintetik yang bisa membuat anak menjadi hiperaktif.

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tidak ada hubungannya antara konsumsi gula dengan anak menjadi hiperaktif, kecuali jika anak tersebut memang sudah didiagnosis memiliki gangguan hiperaktif.

Sedikitnya telah ada 15 penelitian yang jusru menunjukkan bahwa pewarna makanan buatan, khususnya red 40 dan quinoline yellow bisa menyebabkan hiperaktif seorang anak meningkat terutama pada anak yang memang sudah didiagnosis menderita gangguan hiperaktif.

Seperti dikutip dari Healthmad, Kamis (23/9/2010) salah satu psikiater yang terlibat dalam penelitian menyarankan untuk menghindari makanan yang menggunakan zat pewarna dan mengamati perilaku sang anak. Karena dengan menghindari zat pewarna tersebut, maka bisa membantu menghentikan konsumsi obat-obatan seperti Ritalin.

Selain itu sudah ada dua penelitian yang telah menunjukkan hasil serupa pada anak-anak yang tidak memiliki gangguan hiperaktif. Sebagai hasil dari temuan ini, badan standar makanan Inggris telah menginstruksikan produsen makanan untuk menghapus pewarna sintetis dari berbagai produk. Beberapa produk mengganti pewarna sintetis tersebut dengan buah bit, ekstrak annatto dan paprika.

Karena itu para orangtua harus cermat memilih makanan yang akan dikonsumsi oleh anaknya, terutama jika si kecil memang diketahui memiliki gangguan hiperaktif.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menghindari penggunaan zat warna sintetik dalam makanan, yaitu:

1. Bacalah label pada kemasan makanan secara teliti, pertimbangkan setiap bahan yang tercantum dalam kemasan sebelum membeli.

2. Menghindari makanan olahan (processed food). Pewarna dan bahan aditif lainnya akan lebih banyak ditemui dalam makanan kemasan, botol atau kalengan. Selain itu juga perhatikan zat pewarna yang kadang ditambahkan dalam buah-buahan atau sayuran.

3. Buatlah permen atau es sendiri untuk anak-anak. Orangtua tidak bisa mengontrol apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya di luar rumah, karena itu bekali anak dengan cemilan yang menarik tapi sehat. Misalnya orangtua bisa membuat es susu sendiri atau membuat permen dari manisan buah yang dibuat sendiri.

4. Usahakan untuk menghindari makanan atau jajanan di luar yang memiliki warna terlalu cerah atau mencolok, karena biasanya warna-warna tersebut berasal dari zat warna sintetik.

Dibutuhkan usaha ekstra dan juga pengeluaran yang lebih untuk menghindari berbagai zat aditif dalam makanan anak-anak, tapi usaha ekstra ini akan memberikan manfaat kesehatan yang lebih dan juga menghindari anak dari masalah seperti menjadi hiperaktif.

Telur Mendongkrak IQ Anak


inmagine.com

Jangan pernah mengabaikan telur dalam makanan anak. Cukup dua butir telur setiap hari dapat membantu perkembangan IQ (intelligence quotient) anak serta mengobati penyakit defisiensi yodium yang banyak diderita murid di daerah pegunungan.

Hal itu diungkapkan ahli gizi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Toto Sudargo, SKM, M.Kes, saat memaparkan hasil penelitiannya kepada wartawan, di FK UGM, Bulaksumur Yogyakarta, Senin (5/10/2009).

“Dua keuntungan bila anak-anak kita mau mengkonsumsi telur, dua butir setiap harinya,” kata Toto.

Staf pengajar jurusan gizi kesehatan FK UGM itu memaparkan hasil penelitiannya pada siswa sekolah dasar (SD) di daerah pegunungan di Kabupaten Wonosobo dan Wonogiri, Jawa Tengah. Hasilnya, didapatkan dampak kekurangan yodium ini dapat menurunkan IQ sekitar 10-15 persen.

“Ketika ditreatment dengan telur bisa menambah IQ sekitar
20 persen,” kata Sudargo.

Menurut dia, rata-rata anak sekolah di seluruh Indonesia sekitar 35-65 persen masih kekurangan gizi, terutama defisiensi yodium. Daerah Wonosobo dan Wonogiri, siswa SD mengalami kekurangan yodium sekitar 19 hingga 33 persen.

Dia mengatakan pemanfaatan telur untuk dikonsumsi sangat baik, karena daya serap satu butir telor yang beratnya 60 gram mengandung 7-8 gram protein. Sementera kebutuhan anak sekolah 45 gram protein.

“Saran kita adalah perlu sekali untuk konsumsi telur. Apalagi kalau digoreng, karena ada tambahan 10 gram protein akan menambah 110 kilo kalori,” ungkap dia.

detik.com

Artikel Terkait :

Brain Food : 10 Makanan Terbaik untuk Kecerdasan


 

inmagine.com

INGIN anak Anda cemerlang di sekolah? Cobalah untuk memperhatikan dengan jeli kebutuhan gizi dan nutrisi mereka setiap hari. Selain itu, ada baiknya pula memasukan 10 jenis makanan terbaik berikut ini. Makanan yang dijuluki “Brain Food” ini diyakini dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak, memperbaiki fungsinya, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi berpikir anak-anak. 

1. Salmon
Ikan berlemak seperti salmon merupakan sumber terbaik asam lemak omega-3 – DHA and EPA – yang keduanya penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak. Riset terbaru juga menunjukkan bahwa orang yang memperoleh asupan asam lemak lebih banyak memiliki pikiran lebih tajam dan mencatat hasil memuaskan dalam uji kemampuan. Menurut para ahli walaupun tuna mengandung asam omega-3, namun ikan ini tidaklah sekaya salmon.

2. Telur
Telur dikenal sebagai sumber penting protein yang relatif murah dan harganya cukup terjangkau. Bagian kuning telur ternyata padat akan kandungan kolin, suatu zat yang dapat membantu perkembangan memori atau daya ingat.

3. Selai kacang
“Kacang tanah (peanut) dan selai kacang merupakan salah satu sumber vitamin E. Vitamin ini merupakan antioksidan yang dapat melindungi membran-membran sel saraf. Bersama thiamin, vitamin E membantu otak dan sistem saraf dalam penggunaan glukosa untuk kebutuhan energi.

4. Gandum murni

Otak membutuhkan suplai atau sediaan glukosa dari tubuh yang sifatnya konstan. Gandum murni memiliki kemampuan untuk mendukung kebutuhan tersebut. Serat yang terkandung dalam gandum murni dapat membantu mengatur pelepasan glukosa dalam tubuh. Gandum juga mengandung vitamin B yang berfungsi memelihara kesehatan sistem saraf. 

5. Oat/Oatmeal
Oat merupakan salah satu jenis sereal paling populer di kalangan anak-anak dan kaya akan nutrisi penting bagi otak. Oat dapat menyediakan energi atau bahan bakar untuk otak yang sangat dibutuhkan anak-anak mengawali aktivitasnya di pagi hari. Kaya akan kandungan serat, oat akan menjaga otak anak terpenuhi kebutuhannya di sepanjang pagi. Oat juga merupakan sumber vitamin E, vitamin B, potassium dan seng — yang membuat tubuh dan fungsi otak berfungsi pada kapasitas penuh.

6. Berry
Strawberry, cherry, blueberriy dan blackberry. Secara umum, semakin kuat warnanya, semakin banyak nutritisi yang di kandungnya. Berry mengandung antioksidan kadar tinggi, khususnya vitamin C, yang berfaedah mencegah kanker.

Beberapa riset menunjukkan mereka yang mendapatkan ekstrak blueberry dan strawberry mengalami perbaikian dalam fungsi daya ingatnya. Biji dari buah berri ini juga ternyata kaya akan asam lemak omega-3.

7. Kacang-kacangan
Kacang adalah makanan spesial sebab makanan ini memiliki energi yang berasal dari protein serta karbohidrat kompleks. Selain itu, kacang kaya akan kandungan serat, vitamin dan mineral. Kacang juga makanan yang baik untuk otak karena mereka dapat mempertahankan energi dan kemampuan berpikir anak-anak pada puncaknya di sore hari jika dikonsumsi saat makan siang.

Menurut hasil penelitian, kacang merah dan kacang pinto mengandung lebih banyak asal lemak omega 3 daripada jenis kacang lainnya — khususnya ALA – jenis asal omega-3 yang penting bagi pertumbuhan dan fungsi otak .

8. Sayuran berwarna
Tomat, ubi jalar merah, labu, wortel, bayam adalah sayuran yang kaya nutrisi dan sumber antioksidan yang akan membuat sel-sel otak kuat dan sehat.

9. Susu dan Yogurt
Makanan yang berasal dari produk susu mengandung protein dan vitamin B tinggi. Dua jenis nutrisi ini penting bagi pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter dan enzim. Susu dan yogurt juga bisa membuat perut kenyang karena kandungan protein dan karbohidratnya sekaligus menjadi sumber energi bagi otak.

Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa anak-anak dan remaja membutuhkan lebih banyak vitamin D bahkan 10 kali dari dosis yang direkomendasikan. Vitamin D adalah vitamin yang juga penting bagi sistem saraf otot dan siklus hidup sel-sel manusia secara keseluruhan.

10. Daging sapi tanpa lemak
Zat besi adalah jenis mineral esensial yang akan membantu anak-anak tetap berenergi dan berkonsentrasi di sekolag. Daging sapi tanpa lemak adalah salah atu sumber makanan yang mengandung banyak zat ebsi. Dengan hanya mengonsumsi 1 ons per hari, maka tubuh Anda akan terbantu dalam penyerapan zat besi darai sumrbe lainnya. Daging sapi juga mengandung mineral seng yang dapat membantu memelihara daya ingat .

Khsusus bagi yang vegetarian, Anda dapat memanfaatkan kacang hitam dan burger kedelai sebagai pilihan. Kacang-kacangan adalah adalah sumber penting zat besi nonheme — tipe zat besi yang membutuhkan vitamin C untuk di serap oleh tubuh . Mengonsumsi tomat , jus jeruk, strawberry dan kacang-kacangan juga dapat dipilih sebagai upaya mencukupi kebutuhan zat besi.

Sumber : WebMD

Artikel Terkait :

Artikel Terbaru :