Gallery

Berbahayakah Pemeriksaan Kehamilan dengan USG?


inmagine.com

Saat ini telah banyak spesialis kandungan yang melengkapi diri dengan fasilitas USG. Di hampir semua Rumah Sakit telah menyediakan pemeriksaan ini. Klinik kebidanan pun juga banyak yang menyediakan pelayanan dengan dokter spesialis kandungan.
Untuk memantau perkembangan janin dalam rahim perlu dilakukan pemeriksaan dengan alat yang akurat. Maka salah satu yang digunakan adalah USG. Ultrasonografi atau yang lebih dikenal dengan USG adalah metode yang digunakan oleh dokter untuk memotret atau merekam gambar hidup janin dalam kandungan.Ada sebagian kalangan yang mengatakan bahwa USG dapat berbahaya bagi pertumbuhan janin. Mereka mencoba untuk berteori bahwa gelombang yang dipancarkan oleh alat tersebut ke dalam rahim ibu akan menembus organ-organ janin, sehingga apabila terlalu sering di-USG maka dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya sebagaimana pancaran gelombang sinar X, sinar α, sinar γ, sinar laser dan sebagainya. Benarkah ?

Hal tersebut sangatlah tidak benar dan boleh dikatakan salah alamat. Arti Ultrasonografi secara harfiah itu sendiri adalah pengambilan gambar dengan gelombang suara ultra. Melalui penggunaan frekuensi gelombang suara tinggi (20.000 Hertz) yang telah dipantulkan ke tubuh, maka Anda dapat melihat gambaran rahim dan isinya dalam bentuk informasi gambar (sonogram) yang dapat dilihat pada layar monitor. Sehingga jawabannya adalah USG aman dilakukan untuk bayi dalam kandungan dan juga ibu karena gelombang suara tidaklah berbahaya.
Tujuan Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG dilakukan untuk tujuan, antara lain:
a) Mengkonfirmasi kehamilan
b) Mengetahui usia kehamilan
c) Menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan
d) Mengetahui akan adanya ancaman keguguran
e) Mengetahui lokasi dan ukuran plasenta
f) Mengetahui jumlah janin dalam kandungan
g) Mengukur jumlah janin dalam kandungan
h) Mengetahui kelainan letak janin
i) Mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan
Pada saat pemeriksaan USG dokter akan memberikan gel yang akan ditaruh diatas perut Anda, yang berfungsi sebagai pengantar suara, dan dengan sebuah alat yang akan digerak-gerakkan diatas perut dengan bantuan gel itu, sehingga akan menghasilkan gambaran bayi di layar monitor USG.
Sekarang ini dengan kemajuan teknologi sudah mulai digunakan pula USG 3D dan USG 4D. Fungsinya sama dengan USG biasa. Hanya saja USG 3D dan USG 4D menilai lebih detail dan lebih akurat, karena dapat melihat dalam bentuk ruang atau 3 dimensi, sedangkan USG 4D juga dapat menilai gerak.
Penggunaan USG 3D dan USG 4D biasanya dilakukan oleh dokter jika ada kemungkinan janin mengidap kelainan atau riwayat penyakit tertentu pada rahim ibu sehingga harus diamati secara detail. Tapi tidak salahnya juga apabila Anda menjadikannya untuk kepentingan yang lain.
Perlu Anda mengetahui bahwa pemeriksaan USG yang dilakukan pada awal kehamilan hanya dapat dilakukan saat kandung kencing penuh sehingga rahim terangkat naik dan dapat dilihat jelas di layar monitor. Untuk itu sebelum pemeriksaan, Anda sebaiknya minum banyak air putih atau menahan sebentar kencing sampai pemeriksaan USG selesai. Pemeriksaan USG hanya memerlukan waktu 5 – 10 menit. (Ensiklopedia Calon Ibu, Buku Pintar kehamilan & Persalinan.)
Gallery

Toilet Jongkok Lebih Menyehatkan Bagi Ibu Hamil


 

 

Bagi masyarakat moderen, toilet jongkok sudah banyak ditinggalkan karena dianggap ketinggalan zaman. Padahal bagi ibu hamil, buang air besar di toilet jongkok lebih banyak memberikan manfaat dibandingkan melakukannya di toilet duduk.

Sejumlah pakar kehamilan mengatakan buang air besar di toilet jongkok bukan hanya aman, tapi justru dianjurkan bagi ibu hamil. Menurut hasil penelitian, sering jongkok semasa hamil dapat mengurangi berbagai hambatan dan rasa sakit saat bersalin.

Jongkok diyakini sebagai posisi paling natural atau alamiah saat melahirkan, karena jalan lahir hanya akan terbuka dengan sempurna pada posisi tersebut. Latihan jongkok semasa hamil bisa meningkatkan elastisitas jalan lahir sehingga mampu membuka 20-30 persen lebih lebar.

Posisi jongkok juga bisa memperkuat otot paha dan perut agar siap digunakan untuk mendorong bayi saat lahir. Makin kuat dorongan dari dalam, bantuan dari bidan atau dokter kandungan misalnya dengan menggunakan forceps atau pencepit makin tidak diperlukan.

Meskipun demikian, penggunaan toilet jongkok juga punya risiko bagi ibu hamil. Oleh karena itu ibu hamil yang menggunakan toilet jongkok harus memperhatikan hal-hal berikut ini, seperti dikutip dari Babycenter, Minggu (27/3/2011).

1. Pastikan lantai dan pijakan kaki dalam kondisi kering atau minimal tidak licin agar tidak terpeleset. Jika perlu, gunakan alas kaki bari bahan karet yang antiselip.

2. Jika memungkinkan, pasang pegangan di dekat toilet jongkok untuk memudahkan saat hendak berdiri. Pegangan tersebut juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan, karena perut yang membesar membuat titik berat pada ibu hamil berbeda dari orang-orang pada umumnya.

3. Hindari gerakan-gerakan yang berbahaya seperti mengambil gayung atau tissue toilet yang berada di luar jangkauan normal. Terlalu memaksakan diri tidak hanya berisiko jatuh, tapi juga memicu tekanan pada perut yang bisa membahayakan kehamilan.

4. Jika merasa tidak nyaman saat jongkok, misalnya pusing atau kesemutan maka jangan dipaksakan. Konsultasikan dengan dokter, sebab gejala tersebut bisa menandakan adanya gangguan pada saraf dan peredaran darah.

5. Jangan terlalu sering jongkok, atau hindari sama sekali jika memang ada komplikasi tertentu yang menyertai kehamilan.

 

Gallery

Dampak Jika Ibu Hamil Kurang Vitamin dan Mineral


 

 

Jakarta, Ibu hamil harus punya cukup nutrisi. Jika ibu hamil kekurangan nutrisi dan vitamin maka bisa menimbulkan masalah pada kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya. Apa saja akibatnya?

Kebutuhan nutrisi tertentu yang meningkat membuat ibu hamil berisiko mengalami defiensi pada beberapa vitamin dan mineral. Maka itu ibu hamil perlu mempertahankan pola makan sehat dan seimbang.

Jika ibu hamil kekurangan nutrisi dan vitamin seperti dikutip dari Livestrong dan Babyfit, Jumat (11/2/2011) maka ini yang akan terjadi:

Kekurangan asam folat

Asam folat atau vitamin B9 membantu tubuh memproduksi dan mempertahan sel-sel baru, sedangkan pada awal kehamilan asam folat mendukung produksi darah dan sel darah.

Kebutuhan asam folat saat hamil meningkat dari 400 mg per hari menjadi 600 mg per hari. Jika terjadi kekurangan asam folat saat hamil maka berisiko melahirkan prematur, cacat tabung saraf (neural tube defect).

Kekurangan vitamin A

Ibu hamil berisiko mengalami kekurangan vitamin A terutama selama trimester terakhir ketika permintaan untuk janin yang dikandung dan ibu hamil sendiri meningkat.

Asupan vitamin A yang kurang selama hamil bisa mempengaruhi kemampuan penglihatan dan juga perkembangan paru-paru janin.

Kekurangan zat besi

Dalam laporan The Journal of Nutrition edisi 2003 menuturkan selama hamil volume darah meningkat sebesar 35-40 persen. Sel darah mengandung protein hemoglobin yang memerlukan mineral zat besi. Hemoglobin ini akan membawa oksigen ke sel-sel tubuh ibu dan janin, karenanya zat besi menjadi nutrisi yang penting.

Transfer zat besi ke janin akan meningkat selama minggu ke-30. Jika kadar zat besi yang ditransfer rendah akan membuat janin tidak mendapatkan asupan zat besi yang cukup (berisiko berat badan lahir rendah) dan ibu juga akan mengalami kekurangan yang berisiko anemia.

Kekurangan kalsium dan vitamin D

Kebutuhan kalsium dan vitamin D akan meningkat selama kehamilan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tulang serta gigi bayi. Jika asupan kalsium dan vitamin D tidak mencukupi, maka bayi akan mengambilnya dari tulang ibu. Hal ini meningkatkan risiko osteoporosis pada ibu dan infeksi pernapasan pada bayi.

Kekurangan vitamin B12

Vitamin B12 diperlukan tubuh untuk membentuk DNA, RNA, lemak dan beberapa hormon serta protein yang berperan penting untuk membentuk sel darah merah dan menjaga saraf tetap bekerja dengan baik.

Selama hamil cadangan vitamin B12 dalam tubuh kemungkinan habis yang membuatnya berisiko mengalami defisiensi. Kekurangan vitamin B12 bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilannya.

 

Gallery

Jarak Kehamilan Kurang dari 1 Tahun Berisiko Anak Autis


 

 

Columbia, Sebaiknya rencanakan waktu kehamilan Anda dengan baik-baik, karena peneliti menemukan bahwa wanita yang hamil lagi dalam waktu kurang dari 1 tahun setelah melahirkan dapat meningkatkan risiko bayinya mengalami autisme.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang dikandung oleh ibu yang baru saja melahirkan dengan jarak kurang dari 1 tahun bisa tiga kali lebih mungkin mengalami gangguan perkembangan.

Menurut peneliti, hal ini karena tubuh wanita membutuhkan waktu untuk pulih dari kehamilan. Selain itu, janin yang dikandung terlalu cepat setelah melahirkan lebih mungkin untuk kekurangan nutrisi penting.

Temuan yang berdasarkan studi lebih dari 600 ribu keluarga di California ini menambahkan bukti bahwa kehamilan yang berjarak dekat bisa berbahaya, baik bagi ibu dan juga bayi yang dikandungnya.

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa wanita yang hamil dengan jarak dekat berisiko melahirkan prematur dan berat badan bayi rendah, yang bisa lebih berisiko terhadap perkembangan bayi jangka panjang.

“Risiko autisme akan semakin meningkat pada anak-anak yang lahir dengan interval kehamilan yang pendek. Risiko tertinggi terjadi pada jarak kehamilan kurang dari 1 tahun,” jelas Dr Keely Cheslack-Postava, penulis studi dari Columbia University, New York, dilansir Dailymail, Senin (10/1/2011).

Dr Cheslack-Postava menyebutkan, mengandung anak kurang dari 1 tahun setelah kelahiran memiliki risiko 3,4 kali lebih tinggi mengalami autisme. Sedangkan bayi dikandung 12-23 bulan setelah kelahiran 1,9 kali lebih tinggi, dan jarak 2-3 tahun 1,2 kali lebih tinggi.

Selama ini penyebab pasti autisme masih menjadi misteri, tetapi diperkirakan disebabkan oleh kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan, terutama saat bayi masih dalam kandungan.

Peneliti juga menemukan bahwa ada hubungan yang erat antara jarak kehamilan yang terlalu dekat kekurangan nutrisi pada ibu hamil, terutama folat yang dibutuhkan selama kehamilan. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab yang menghubungkan antara jarak kehamilan dekat dan autisme.

“Wanita telah disarankan untuk memberi waktu yang cukup untuk mengatur jarak kehamilan, setidaknya lebih dari satu tahun setelah kehamilan sebelumnya,” jelas Dr Patrick O’Brien, konsultan dan juru bicara untuk Royal College of Obstetricians dan Gynaecologists.


Gallery

Kondisi Ibu Hamil yang Tak Boleh Diabaikan


 

 

Jakarta, Saat hamil seorang calon ibu kadang mengalami banyak perubahan dalam tubuhnya, sehingga bingung untuk mengetahui kondisi apa saja yang harus dikhawatirkan. Kenali kondisi ibu hamil yang tidak boleh diabaikan.

Perempuan yang baru mengandung anak pertama terkadang belum memiliki pengalaman mengenai kehamilan, sehingga tidak mengetahui kondisi seperti apa yang tidak boleh diabaikan. Seperti dikutip dari Babycenter, Selasa (15/6/2010) ada beberapa hal yang sebaiknya tidak diabaikan oleh ibu hamil, yaitu:

1. Bayi yang dikandung tidak bergerak atau menendang seperti biasanya. Ibu hamil sebaiknya mulai membiasakan diri untuk menghitung gerakan bayi tiap harinya, hal ini penting sebagai deteksi awal.

2. Mengalami sakit perut atau nyeri yang persisten.

3. Mengalami perdarahan atau bercak darah dari vagina.

4. Adanya peningkatan cairan vagina seperti berair atau berlendir. Tapi jika terjadi setelah 37 minggu, maka kondisi ini normal dan bisa menjadi petunjuk untuk segera melahirkan.

5. Mengalami tekanan di tulang panggul, sakit pada pinggang atau mengalami lebih dari empat kali kontraksi dalam sehari sebelum usia kehamilan 37 minggu.

6. Muntah yang terus menerus atau disertai dengan demam dan sakit.

7. Merasa nyeri saat buang air kecil atau hanya sedikit urin yang keluar saat berkemih.

8. Sakit kepala yang persisten atau disertai dengan gangguan penglihatan.

9. Pembengkakan yang terjadi tidak hanya di tangan dan kaki tapi juga di sekitar wajah atau mata.

10. Kenaikan berat badan yang terlalu drastis misalnya lebih dari 4 kilo dalam seminggu.

11. Sering pusing, detak jantung yang cepat, kesulitan bernapas atau pernah mengalami trauma perut.

12. Kontak dengan penyakit menular seperti cacar air atau rubela, jika belum pernah terpapar penyakit tersebut maka segera konsultasikan dengan dokter untuk melakukan upaya pencegahan.

13. Mengalami depresi atau kecemasan yang berat. Hal ini harus segera diatasi sehingga tidak mengganggu kehamilan serta perkembangan janin yang dikandungnya.

Tubuh seseorang yang hamil memang bisa berubah sangat cepat sehingga sulit untuk mengetahui apakah hal tersebut normal atau tidak. Jika tidak yakin dengan gejala yang dialami atau membuat ibu hamil merasa tidak nyaman, maka tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter untuk lebih menyakinkan.

 

Gallery

Calon Ayah Juga Bisa Ngidam


 

 

London, Kenaikan berat badan dan mual-mual adalah gejala yang biasanya dikaitkan dengan kehamilan perempuan. Tapi kondisi ini juga bisa dialami suami yang disebut mengalami kehamilan simpatik atau sindrom couvade.

Ketika sang istri merasa mual, mengalami morning sickness, berat badannya bertambah, maka terkadang suami juga merasakan hal yang sama. Selain itu pada beberapa kasus, suami juga turut makan dalam porsi besar untuk dua orang (eat for two).

Banyak calon ayah yang mengembangkan berbagai gejala simpatik ini seperti mengalami kram, sakit punggung, perubahan suasana hati (mood) yang mendadak, ngidam suatu makanan, mual di pagi hari, mengalami kelelahan hingga pada beberapa kasus tertentu ada yang suaminya menjadi pingsan.

Meskipun beberapa orang mengalami hal ini hingga istrinya melahirkan, tapi ada juga yang berhenti setelah beberapa bulan.

Peneliti Dr Arthur Brennan dari Kingston University di London mempelajari 282 laki-laki yang akan mempersiapkan diri untuk menjadi ayah. Hasil yang didapatkan sekitar 55 persen laki-laki ini turut mengalami gejala yang biasanya dialami oleh sang istri saat hamil.

“Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan hormon prolaktin yang biasanya terkait dengan ibu menyusui. Tapi hormon ini juga bisa hadir di dalam tubuh ayah,” ujar Dr Brennan, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (14/6/2010).

Beberapa studi menunjukkan kondisi ini juga terkait dengan perubahan kadar hormon seperti prolaktin, kortisol, estradiol dan testosteron.

Gejala sindrom ini bisa terjadi sejak trimester awal kehamilan, tapi untuk kasus tertentu bisa hingga beberapa minggu setelah kelahiran.

Selain itu ada juga bukti lebih lanjut yang menunjukkan bahwa secara alami seorang ayah akan mempersiapkan diri untuk meyambut kelahiran bayinya.

Pengujian menunjukkan perubahan hormonal yang terjadi akan membuat kadar testosteron seorang laki-laki menurun saat mendekati kelahiran bayinya. Inilah yang terkadang menyebabkan seorang laki-laki menangis saat kelahiran bayinya.